Chomchom Bangladesh: Warisan Manisan Porabari
Chomchom bangladesh adalah salah satu manisan tradisional paling ikonik dari wilayah Porabari, distrik Tangail, Bangladesh. Manisan ini dikenal sebagai bagian penting dari identitas kuliner daerah tersebut dan telah mewarisi tradisi yang berlangsung lebih dari satu abad. Teksturnya yang lembut, warna kecoklatan kemerahan yang khas, serta rasa manis yang kaya telah membuatnya dikenal hingga ke mancanegara.
Meski begitu, di tengah popularitasnya, industri tradisional pembuat chomchom Porabari kini berada dalam masa kritis. Banyak produsen kesulitan bertahan akibat naiknya biaya produksi, perubahan lingkungan, dan persaingan produk tiruan yang mengatasnamakan nama Porabari. Artikel ini mengulas sejarah, proses produksi, serta kondisi terkini para pembuat chomchom bangladesh, berdasarkan sumber berita valid dan media lokal Bangladesh.
Sejarah Chomchom Bangladesh di Porabari
Asal Usul dan Perkembangan
Chomchom diyakini pertama kali diproduksi di desa Porabari, Tangail pada akhir abad ke‑19 oleh seorang pembuat manisan bernama Dasharath. (GetBengal, 2019) Varian asli dari Porabari dikenal memiliki warna bata kemerahan, tekstur padat namun lembut, serta aroma susu karamel yang khas, yang membedakannya dari manisan sejenis di daerah lain. (The Financial Express, 2022)
Popularitas manisan ini kemudian menyebar ke kota‑kota besar di Bangladesh dan diadopsi oleh komunitas diaspora Bengali di banyak negara. (Dhaka Tribune, 2019)
Proses Pembuatan Otentik Chomchom Bangladesh
Komposisi dan Teknik Tradisional
Selain bahan utama seperti chhena (curd susu), gula, dan tepung, beberapa produsen tradisional menggunakan mawa (susu kering) untuk memberikan warna kemerahan yang khas dan rasa yang kaya. (The Business Standard, 2022) Teknik memasak dengan sirup gula berulang kali serta proses pemanasan perlahan membuat teksturnya tetap lembut tanpa hancur. (Slurrp, 2024)
Beberapa cerita lokal juga menyebutkan bahwa air Sungai Dhaleshwari berperan penting dalam karakter rasa produk asli, meski hal tersebut dianggap bagian dari legenda tradisional. (GetBengal, 2019)
Krisis Industri dan Upaya Pelestarian
Penurunan Produksi dan Ancaman Kepunahan
Produsen tradisional Chomchom Porabari mengaku bisnis mereka merosot tajam akibat kenaikan harga bahan baku, pemutusan pasokan gas, dan berkurangnya minat generasi muda melanjutkan usaha keluarga. (The Business Standard, 2023) Persaingan dari pabrik modern yang memproduksi tiruan tanpa standar kualitas turut memperburuk keadaan. (The Financial Express, 2022)
Peluang dan Solusi untuk Bertahan
Menurut The Daily Star, pengakuan geografi produk (indikasi geografis/GI) dan sertifikasi mutu dapat menjadi jalan penyelamat agar chomchom bangladesh asli tetap terlindungi dari pemalsuan. (The Daily Star, 2023) Selain itu, promosi digital dan festival kuliner dianggap mampu membangkitkan kembali antusiasme publik terhadap manisan tradisional ini.
Chomchom bangladesh bukan sekadar manisan, tetapi simbol warisan sejarah dan tradisi kuliner yang membanggakan. Jika tidak didukung langkah konkret, bukan tidak mungkin manisan legendaris asal Porabari ini hanya akan menjadi cerita masa lalu. Dukungan terhadap produsen tradisional dan kesadaran konsumen terhadap produk asli menjadi kunci keberlangsungan warisan ini.
Tetap ikuti informasi menarik lainnya hanya di Garap Media. Temukan liputan kuliner tradisional, budaya lokal, dan isu-isu publik yang mendalam dari berbagai belahan dunia. Jangan lupa dukung media lokal dan karya jurnalistik berkualitas.
Referensi
