Kecelakaan melibatkan dua Bus Transjakarta terjadi di Jalur Layang Koridor 13 Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Insiden yang disebut sebagai “adu banteng” itu menyebabkan puluhan penumpang mengalami luka-luka dan sempat mengganggu operasional layanan pada jam sibuk pagi.
Berdasarkan laporan sejumlah media nasional dan lokal, total 23 orang mengalami luka ringan hingga sedang dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepolisian bersama pihak Transjakarta segera melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan (Antara News, 2026).
Kronologi Bus Transjakarta Adu Banteng di Jalur Layang
Peristiwa terjadi pada Senin pagi sekitar pukul 07.15 WIB di ruas Swadarma arah Cipulir. Dua bus Transjakarta yang melaju dari arah berlawanan tiba-tiba bertabrakan kepala dengan kepala di jalur khusus yang dikenal sebagai “jalur langit”.
Benturan terjadi setelah salah satu bus diduga keluar dari lajurnya sebelum akhirnya menabrak bus dari arah berlawanan. Akibat kejadian tersebut, 23 orang dilaporkan mengalami luka dan mendapatkan penanganan medis (detikNews, 2026).
Foto-foto yang beredar memperlihatkan bagian depan kedua bus ringsek cukup parah akibat benturan keras. Kaca depan pecah dan bodi bagian depan mengalami kerusakan signifikan, memperlihatkan kuatnya dampak tabrakan yang terjadi (iNews.id, 2026).
Dugaan Microsleep Jadi Sorotan Utama
Polisi menyebut dugaan awal kecelakaan Bus Transjakarta ini berkaitan dengan kondisi sopir yang mengalami microsleep atau tertidur sesaat saat mengemudi. Kondisi ini sangat berbahaya karena pengemudi bisa kehilangan kendali kendaraan dalam hitungan detik.
Microsleep sendiri merupakan kondisi tidur singkat beberapa detik yang dapat terjadi tanpa disadari dan berisiko tinggi saat seseorang sedang mengemudi kendaraan besar seperti bus (detikHealth, 2026).
Hingga kini, kepolisian masih mendalami keterangan saksi serta pengemudi untuk memastikan penyebab resmi kecelakaan dan menunggu hasil investigasi lanjutan (iNews.id, 2026).
Dampak terhadap Penumpang dan Respons Transjakarta
Sebanyak 23 korban luka telah mendapatkan perawatan medis dan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Beberapa korban dilaporkan mengalami luka akibat benturan serta pecahan kaca di dalam bus.
Pihak Transjakarta menyatakan akan menanggung biaya pengobatan korban serta melakukan investigasi internal terhadap kejadian tersebut sebagai bentuk tanggung jawab layanan publik (Suara.com, 2026).
Selain itu, petugas gabungan dari kepolisian dan dinas perhubungan langsung melakukan evakuasi kendaraan agar layanan Koridor 13 bisa kembali beroperasi secara normal. Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya standar keselamatan transportasi massal di ibu kota.
Evaluasi Keselamatan Transportasi Publik
Kecelakaan Bus Transjakarta di Koridor 13 menjadi alarm serius bagi pengelola transportasi publik. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menunjukkan bahwa risiko tetap ada bahkan di jalur khusus yang seharusnya lebih aman.
Peningkatan pengawasan jam kerja sopir, pemeriksaan kesehatan rutin, serta pemanfaatan teknologi pendeteksi kantuk bisa menjadi langkah pencegahan di masa mendatang. Transparansi hasil investigasi juga dibutuhkan agar kepercayaan publik terhadap layanan Bus Transjakarta tetap terjaga.
Insiden Bus Transjakarta adu banteng di jalur layang Cipulir menjadi peristiwa yang mengguncang publik dan memicu diskusi luas tentang keselamatan transportasi massal. Dengan 23 penumpang terluka, kejadian ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi pengelola layanan bus di Jakarta.
Untuk mendapatkan berita nasional terkini dan analisis mendalam lainnya, pembaca dapat terus mengikuti perkembangan terbaru hanya di Garap Media. Jangan lewatkan berbagai laporan aktual dan terpercaya setiap harinya.
Referensi
