BRIN Ungkap AI Revolusioner Bantu Disabilitas Lebih Mandiri
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mempercepat pengembangan kecerdasan buatan untuk mendukung aktivitas penyandang disabilitas di Indonesia. Inisiatif ini mencakup riset speech recognition, pengenalan ekspresi wajah, serta penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dirancang untuk mengurangi hambatan komunikasi (BRIN, 2025).
Selain itu, program ini menjadi bagian dari strategi besar BRIN untuk mendorong teknologi inklusif dan kolaborasi lintas sektoral. Lembaga riset, akademisi, dan komunitas disabilitas bekerja sama agar solusi yang dihasilkan benar-benar relevan dan mudah diterapkan (BRIN, 2025).
Inovasi utama: AI untuk disabilitas
BRIN menitikberatkan pengembangan beberapa teknologi berbasis kecerdasan buatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna difabel.
Penerjemah Bahasa Isyarat Otomatis
Salah satu proyek unggulan BRIN adalah sistem penerjemah BISINDO berbasis AI. Teknologi ini mengubah gerakan tangan menjadi teks atau suara secara real-time. Dengan sistem ini, komunikasi antara teman Tuli dan masyarakat umum dapat terjalin lebih lancar (Liputan6, 2025; Antara, 2024).
Pengenalan Suara dan Ekspresi Wajah
BRIN juga mengembangkan model pengenalan suara dan ekspresi wajah. Teknologi ini membantu pengguna dengan gangguan bicara atau pendengaran berinteraksi dengan perangkat digital melalui perintah non-verbal. Selain itu, sistemnya lebih adaptif terhadap variasi kemampuan pengguna (Indoposco, 2025).
Aplikasi Bantu untuk Tunanetra
Sementara itu, aplikasi bantu untuk tunanetra tengah diuji. Fitur utamanya adalah kemampuan mengenali objek dan membaca teks dari kamera ponsel. Aplikasi ini memakai model deep learning berbasis data visual lokal agar hasilnya lebih akurat (RRI, 2025).
Kolaborasi, uji coba, dan tantangan implementasi
BRIN melaksanakan kolaborasi dengan universitas, komunitas disabilitas, dan pihak swasta untuk pengumpulan data, uji coba lapangan, serta penyempurnaan model AI. Keterlibatan komunitas disabilitas penting untuk memastikan dataset merepresentasikan variasi gerakan isyarat lokal dan kebutuhan pengguna (BRIN, 2025; Tempo, 2024).
Namun tantangan utama masih berupa ketersediaan data lokal berkualitas, kebijakan adopsi teknologi inklusif, dan kebutuhan akan regulasi yang mendukung implementasi luas. BRIN menyatakan bahwa pendekatan berbasis data lokal dan kebijakan dukungan adalah kunci keberlanjutan proyek (BRIN, 2025; Jurnas, 2025).
Dampak sosial dan arah ke depan
Jika berhasil diimplementasikan secara luas, solusi AI untuk disabilitas dari BRIN berpotensi meningkatkan kemandirian, akses pendidikan, dan partisipasi sosial penyandang disabilitas. Selain manfaat langsung bagi individu, ada peluang ekonomi melalui pengembangan produk lokal yang inklusif dan potensi ekspor teknologi assistive (Liputan6, 2025).
BRIN menekankan pentingnya ekosistem yang mendukung — mulai dari pendanaan, kolaborasi penelitian, hingga kebijakan publik — agar inovasi ini tak berhenti di tahap prototipe tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas (BRIN, 2025).
Inisiatif BRIN dalam mengembangkan AI untuk disabilitas menandai langkah maju dalam menciptakan teknologi yang lebih adil dan dapat diakses oleh semua kalangan. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan dukungan kebijakan.
Untuk membaca berita seputar inovasi teknologi, riset nasional, dan pengembangan inklusif lainnya, kunjungi Garap Media dan ikuti update terbarunya agar tidak ketinggalan informasi penting.
Referensi
