Borderline Personality Disorder: Fakta, Gejala, dan Penanganan
Borderline Personality Disorder (BPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, hubungan interpersonal yang fluktuatif, dan citra diri yang tidak konsisten. Kondisi ini sering kali muncul pada akhir masa remaja atau awal dewasa dan dapat menimbulkan disfungsi sosial serta pekerjaan yang signifikan (Harvard Health, 2024).
BPD masih kerap disalahpahami dan dibarengi stigma. Namun penelitian longitudinal menunjukkan bahwa banyak penderita dapat mencapai remisi atau perbaikan jangka panjang bila mendapatkan terapi dan dukungan yang sesuai (Temes et al., 2018 ; McLean Hospital, 2025).
Apa itu Borderline Personality Disorder?
Borderline Personality Disorder merupakan pola perilaku dan pengalaman internal yang persisten — misalnya disregulasi emosional, impulsivitas, hubungan interpersonal yang intens namun tidak stabil, serta ketakutan kuat akan ditinggalkan. Diagnosis dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria diagnostik standar (DSM‑5) dan interview klinis (Mayo Clinic, 2024).
Prevalensi di populasi umum diperkirakan antara 0.2–2% tergantung studi; angka lebih tinggi dilaporkan di layanan psikiatri rawat jalan dan rawat inap (10–25%) (Cattane et al., 2017).
Gejala Borderline Personality Disorder (keyword: borderline personality disorder)
Gejala yang umum ditemukan meliputi perubahan suasana hati yang cepat, rasa takut ditinggalkan, hubungan interpersonal yang penuh konflik, perasaan kosong kronis, serta perilaku impulsif seperti penyalahgunaan zat atau menyakiti diri sendiri. Pada kondisi stress berat, beberapa pasien dapat mengalami gejala psikotik ringan (mispersepsi, paranoid singkat) (Harvard Health, 2024).
Perlu diingat bahwa manifestasi klinis bervariasi antar individu—diagnosis dan rencana terapi harus disesuaikan oleh profesional kesehatan mental.
Penyebab dan faktor risiko
Penyebab BPD bersifat multifaktorial: kombinasi faktor genetik, neurobiologis, dan lingkungan diyakini berkontribusi. Penelitian neuroimaging melaporkan perbedaan pada struktur dan konektivitas otak (mis. amigdala, hippocampus, korteks cingulate) yang terkait dengan regulasi emosi; sementara riwayat trauma masa kecil, pengabaian, atau pelecehan meningkatkan risiko munculnya fitur BPD (ScienceDirect, 2024; NHS, 2024).
Model biososial seperti yang dikembangkan Linehan menjelaskan bagaimana temperamen biologis yang rentan + lingkungan yang tidak validasi berinteraksi menghasilkan disregulasi emosional yang menjadi inti BPD (Frontiers in Psychiatry, 2024).
Penanganan Borderline Personality Disorder
Penanganan BPD terutama berfokus pada psikoterapi; intervensi farmakologis bersifat simptomatik.
Terapi psikologis
- Dialectical Behavior Therapy (DBT): Intervensi berbasis bukti untuk mengurangi self-harm, impulsivitas, dan meningkatkan keterampilan pengaturan emosi. DBT merupakan salah satu standar perawatan untuk BPD (Verywell Mind, 2024).
- Schema Therapy & Transference‑Focused Psychotherapy: Terapi jangka panjang yang membantu restrukturisasi pola berpikir dan hubungan interpersonal; beberapa studi menunjukkan efek jangka panjang yang baik (Temes et al., 2018).
Obat-obatan
Tidak ada obat yang disetujui khusus untuk BPD; obat psikiatris (antidepresan, stabilisator mood, antipsikotik) kadang digunakan untuk menangani gejala komorbid seperti depresi, kecemasan, atau impulsivitas. Penelitian obat baru—misalnya uji fase IIb vafidemstat—sedang dieksplorasi sebagai terapi potensial (Oryzon/PORTICO, 2024).
Dukungan dan manajemen risiko
Keterlibatan keluarga, manajemen krisis, serta rencana keselamatan penting untuk mengurangi risiko self-harm dan upaya bunuh diri. General Psychiatric Management (GPM) adalah salah satu pendekatan praktis untuk penyedia layanan umum (Harvard Medical School, 2024).
Prognosis dan perjalanan penyakit
Penelitian longitudinal mencatat bahwa banyak pasien BPD mengalami remisi gejala seiring waktu; studi jangka panjang melaporkan proporsi besar pasien mencapai remisi dan perbaikan fungsi sosial dalam dekade setelah diagnosis, terutama dengan terapi yang memadai (Temes et al., 2018; McLean Hospital, 2025). Namun, risiko mortalitas terkait bunuh diri tetap memerlukan perhatian klinis berkelanjutan.
Borderline Personality Disorder adalah kondisi yang kompleks tetapi dapat dikelola—kombinasi psikoterapi berbasis bukti, dukungan sosial, dan manajemen medis menunjukkan hasil yang menjanjikan. Peningkatan literasi publik dan akses ke perawatan yang tepat akan membantu mengurangi stigma dan memperbaiki hasil jangka panjang bagi penderita.
Untuk berita dan tulisan kesehatan lain yang terpercaya, jangan lewatkan update terbaru di Garap Media.
Referensi
