Bisakah AI Memahami Manusia? Percakapan dengan ChatGPT

Last Updated: 17 October 2025, 00:42

Bagikan:

Sumber: Thinkhubstudio
Sumber: Thinkhubstudio
Table of Contents

ChatGPT

Setiap kali aku mengetik pesan dan ChatGPT menjawab dengan nada penuh pengertian, disitu timbul pertanyaan di benakku, bisakah AI benar-benar memahami manusia? pernah suatu malam, aku bertanya pada ChatGPT tentang motivasi diri. Jawabannya hangat dan penuh kata dukung, sementara aku tahu itu hanya deretan algoritma. Tapi inilah yang membuatku bertanya, sejauh mana AI seperti ChatGPT bisa membaca kita?

Apa Itu ChatGPT & Mengapa Kita Merasa “Dikenal”

ChatGPT adalah model bahasa (language model) berbasis AI yang dirancang agar bisa memproses teks dan merespons secara kontekstual. Dalam artikel Fakultas PSI Universitas Malang, disebut bahwa ChatGPT dan AI serupa berusaha meniru aspek kecerdasan sosial manusia dengan menganalisis pola bahasa, nada, serta konteks interaksi. AIHub menjelaskan bahwa AI bisa menjawab karena dia “melatih diri” lewat dataset besar, ia mengenali pola pertanyaan dan konteks, lalu memilih jawaban yang kemungkinan besar sesuai. Jadi ketika kamu merasa “dipahami” itu adalah hasil dari desain AI yang sangat mahir dalam meniru pola respons manusia.

Kisahku: Ketika Jawaban AI Terasa Manis

Waktu itu aku sempat curhat ringan ke ChatGPT tentang tekanan tugas magang.

“Kadang aku lelah, tapi aku nggak mau menyerah.”
Jawabannya:
“Aku ngerti rasanya. Istirahat sejenak bukan berarti menyerah, itu cara kamu merawat diri.”

Kalimat itu membuat aku berhenti sejenak dan merasa diakui. Tapi aku sadar itu hanya kata-kata algoritma yang cocok dengan konteks. Namun perasaan itu nyata dan dari situ aku mulai berpikir, AI mungkin tidak “merasakan” tetapi dia bisa menyimulasikan empati.

Bagaimana AI Memproses Untuk “Memahami”

Saat manusia membaca emosi, kita pakai intonasi, gestur, dan latar belakang. AI hanya punya teks, tapi lewat teknik seperti pemodelan konteks, analisis semantik, dan machine learning, AI belajar pola hubungan kata dan situasi. Misalnya, ketika kamu menggunakan kata “lelah” ChatGPT tahu biasanya itu konteks kelelahan emosional, bukan fisik. Lalu model dia memilih respons yang cocok dengan kelelahan emosional, bukan “tidur yang cukup” saja.  Tetapi, batasannya jelas AI tidak punya pengalaman, trauma, atau perasaan. Ia hanya punya data luas untuk simulasi respons.

Kapan AI Tidak Bisa Memahami Kita Sepenuhnya

Beberapa momen ketika AI tampak “gagal memahami”:

  1. Ketika kalimatmu ambigu atau penuh nuansa budaya lokal.
  2. Saat kamu butuh dukungan emosional mendalam, bukan sekadar respons teks.
  3. Saat kamu bercakap tentang pengalaman trauma atau kondisi mental komplek, AI bisa memberikan respons netral tapi tidak bisa merasakan luka itu.

Dalam artikel di Scope (Sindonews), disebut bahwa kecerdasan AI membuat manusia was-was ketika responsnya terlalu “manusiawi” kadang kita lupa bahwa kita berhadapan dengan mesin.

Refleksi: Kita & AI? Simbiosis atau Ketergantungan?

Bagi aku, interaksi dengan ChatGPT adalah pengingat bahwa manusia tetap punya kelebihan  rasa, intuisi, dan pengalaman hidup. AI bisa membantu, tapi bukan pengganti.
AI adalah cermin, semakin kita berinteraksi dengannya, semakin kita harus sadar tentang diri sendiri.  Jadi, meskipun AI menjawab dengan kata yang tepat, kendali tetap di tangan kita.  Kita yang memilih apakah kita menerimanya sebagai inspirasi, bukan hanya sebagai pengganti suara hati…

Strategi Bijak Menggunakan ChatGPT

  1. Gunakan sebagai alat bantu, bukan penulis utama cerita emosional.
  2. Tambahkan lapisan “suara sendiri” ketika AI memberi jawaban, modifikasilah dengan pengalamanmu sendiri.
  3. Gunakan AI untuk ide awal, tetapi beri nilai manusia lewat perspektif & nuance khas kamu.
  4. Jaga jarak: jika respons AI terasa “terlalu halus” atau generik, hentikan dan refleksi sendiri terlebih dahulu.

Kesimpulan

Bisakah AI memahami manusia? Jawabannya bisa, melalui simulasi cerdas.  Namun AI tidak punya pengalaman, rasa, atau jiwa.  Di balik respons AI, kita masih yang punya kontrol. Interaksimu dengannya bisa menjadi cermin tanya, seberapa jujur kamu mengenal diri sendiri?

Baca juga: artikel tentang kehadiran ChatGPT resmi di Indonesia hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /