Bijak bermedia sosial menjadi salah satu modal penting bagi para pengguna media sosial. Pasalnya, pikiran, pendapat, bahkan pilihan pribadi yang diunggah di dunia maya bisa saja memicu perdebatan besar yang justru merugikan diri sendiri.
Maka dari itu, psikiater Lahargo Kembaren mengingatkan agar lebih bijak dalam memilah apa yang aman dibagikan kepada warganet. Menurutnya, secara psikologis dan etika digital, ada tiga filter sederhana yang perlu dilalui sebelum mengunggah konten.
Bijak Bermedia Sosial: 3 Hal yang Perlu Dipertimbangkan
1. Kebutuhan atau Impuls
Sebelum mengunggah sebuah konten, pengguna sosial media (sosmed) harus memastikan apakah konten tersebut terkait kebutuhan atau impuls, yakni tindakan spontan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
“Kalau di-posting saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami,” kata Lahargo dalam keterangan pers.
2. Perhatikan Dampak Sosial
Pengguna medsos yang bijak pandai memilih isu dan cara menyajikannya. Isu identitas negara, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat. Karena itu, sebelum mengunggah sesuatu, penting mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin timbul di ruang publik digital.
3. Gunakan Prinsip Future Self
Prinsip future self merujuk pada dampak konten di masa depan, termasuk prediksi terkait potensi konten hingga beberapa tahun ke depan.
“Tanya diri sendiri: ‘Apakah saya tetap nyaman jika posting-an ini dilihat lima tahun lagi?’ Media sosial itu ruang publik permanen. Tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, aman untuk dipublikasikan,” jelas Lahargo.
Kenapa Orang Suka Ungkap dan Unggah Pilihan Pribadi di Media Sosial?
Lahargo juga mengungkap alasan di balik kerapnya orang mengungkap dan mengunggah pilihan pribadi di media sosial. Beberapa alasannya adalah sebagai berikut:
- Butuh Validasi: Otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial seperti suka, komentar, dan bagikan. Hal ini membuat individu terdorong membagikan hal-hal yang sifatnya pribadi.
- Signal Identitas Diri: Unggahan sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif, atau cara pandang terhadap dunia.
- Regulasi Emosi: Sebagian orang menulis di medsos untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, namun dilakukan di ruang publik.
“Kadang yang di-posting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami,” kata Lahargo.
Contoh Kasus
Belakangan, viral di media sosial soal alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengutarakan pilihan pribadinya di medsos. Ia mengupayakan agar anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ibu tersebut bahkan mengutarakan ucapan kontroversial, “Cukup aku aja jadi WNI, anak-anakku jangan.”
Secara umum, Lahargo memberi penjelasan terkait faktor psikologis di balik keluhan stres jadi WNI. Menurutnya, stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, meski tidak semua orang mengalaminya.
Collective Stress
Collective stress atau stres kolektif terjadi ketika seseorang terus menghadapi isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik. Hal ini dapat memunculkan rasa tidak berdaya terhadap sesuatu yang terasa besar dan sulit dikendalikan, sehingga sebagian orang merasa lelah secara emosional atau mengalami burn out. Fenomena ini juga terlihat dari tren diskusi publik dan konten viral yang mengekspresikan kekecewaan terhadap kondisi negara atau masa depan, yang kemudian diperkuat oleh media sosial.
Social Comparison dan Future Anxiety
Social comparison atau perbandingan sosial serta future anxiety atau kecemasan akan masa depan muncul ketika seseorang melihat situasi dan bayangan bahwa hidup lebih baik di luar negeri. Kondisi ini dapat memicu perbandingan sosial.
“Bukan berarti individu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan,” kata Lahargo.
Bias Kognitif Akibat Paparan Berita Negatif
Lahargo menambahkan, jika seseorang lebih banyak mengonsumsi konten bernuansa krisis, kekhawatiran, dan kegagalan sistem, maka otak cenderung melakukan catastrophizing.
“Catastrophizing yaitu melihat situasi terasa lebih berat daripada realitas objektif, jadi lebay, terlalu berlebihan menyikapinya. Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan,” kata dokter yang bergerak di Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI).
Mengeluh di Media Sosial, Itu Ruang Ekspresi Sementara
Lantas, ketika mengalami hal ini, apakah perlu mengeluh di media sosial atau lebih baik datang ke fasilitas kesehatan jiwa? Jika dilihat secara psikologis, Lahargo menilai keduanya memiliki fungsi berbeda.
Mengeluh di Media Sosial
Mengeluh di media sosial adalah usaha untuk katarsis atau pelepasan emosi sementara dan membantu seseorang merasa didengar.
“Namun, media sosial bukanlah ruang pemulihan, itu hanya ruang ekspresi sementara,” kata Lahargo.
Datang ke Psikolog atau Psikiater
Datang ke psikolog atau psikiater menjadi langkah tepat apabila keluhan sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi kehidupan sehari-hari. Berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa dapat membantu menguraikan stres secara terstruktur, bukan hanya ventilasi emosi, tetapi juga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
“Curhat di media sosial boleh saja sebagai ekspresi, tapi pemulihan dari stres yang dialami tetap butuh ruang aman yang tidak menghakimi salah satunya lewat konsultasi ke profesional kesehatan jiwa,” kata Lahargo.
Penutup
Bijak bermedia sosial menjadi kunci agar setiap unggahan tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan menerapkan tiga filter sederhana sebelum mengunggah konten, pengguna dapat lebih berhati-hati dalam mengekspresikan pikiran dan pilihan pribadi di ruang publik digital.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar kesehatan mental, isu sosial, literasi digital, gaya hidup, pendidikan, kebijakan publik, dan fenomena viral hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Bijak Bermedia Sosial, Pertimbangkan 3 Hal Ini Sebelum Unggah Konten. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/6283999/bijak-bermedia-sosial-pertimbangkan-3-hal-ini-sebelum-unggah-konten
