Harga kebutuhan pokok dan biaya hidup di kota-kota besar di Indonesia terus melesat sepanjang 2025. Meski begitu, banyak pekerja melaporkan bahwa gaji mereka tak naik secara signifikan dan bahkan tak cukup untuk menutup kebutuhan dasar sehari-hari.
Situasi ini menimbulkan paradigma baru: kenaikan gaji saja tidak cukup untuk menjaga daya beli bila biaya hidup naik lebih cepat. Pekerja sering berada pada kondisi bertahan, bukan berkembang.
Biaya Hidup Naik Dan Realitas Pekerja
Di kota seperti Jakarta, estimasi kebutuhan hidup layak untuk satu orang tanpa anak diperkirakan mencapai Rp 6–7 juta per bulan. Padahal upah minimum provinsi (UMP) di Jakarta 2025 tercatat hanya sekitar Rp 5,3 juta per bulan nya.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa sementara biaya hidup naik, upah belum tentu mengikuti—terutama bagi pekerja muda, buruh harian, dan kelas menengah yang sering menanggung banyak beban keuangan.
Baca Juga: Transaksi E-Commerce Indonesia 2025 Tembus Rp44,4 Triliun Siapa Yang Dominan?
Tekanan Pada Kelas Menengah Dan Pekerja Urban
Menurut salah satu tulisan reflektif, “gaji naik, tetap miskin? Cermin rapuh kelas menengah Indonesia 2025” menyoroti bagaimana kenaikan gaji yang kecil tidak sepadan dengan kenaikan harga barang & jasa harian. Pekerja lapangan, buruh pabrik, hingga karyawan kantoran merasakan bahwa meski penghasilan sedikit lebih baik, tetap sulit menabung atau merasa aman secara finansial.
Upah nominal meningkat, tapi daya beli menurun
Meskipun terdapat kenaikan upah nominal di beberapa sektor, inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok cenderung menyerap tambahan penghasilan tersebut. Dengan demikian, pekerja merasa bahwa gaji naik tetapi tetap tidak cukup untuk mengimbangi biaya hidup naik.
Banyak pekerja informal maupun kontrak jangka pendek yang justru tidak memperoleh kenaikan upah formal. Selain itu, kenaikan UMP tetap saja tidak menjamin hidup layak bila harga sewa, transportasi, pendidikan, dan kesehatan melonjak lebih cepat.
Dampak terhadap Kehidupan Pekerja & Keluarga
Kondisi ini berdampak nyata, pekerja mengalami kesulitan menabung, beberapa bahkan menggadaikan kebutuhan atau mengambil pekerjaan tambahan. Dalam sebuah studi di Surabaya dan Mojokerto, rumah tangga tanpa anak menganggap penghasilan Rp 6-7 juta per bulan sebagai angka realistis untuk hidup nyaman, namun penghasilan rata-rata masih di bawah angka tersebut.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Kebijakan harus lebih responsif, pemerintah dan pengusaha perlu menyesuaikan kebijakan upah, pengaturan inflasi, dan subsidi secara bersinergi. Kenaikan UMP tidak cukup jika tidak diiringi stabilitas harga kebutuhan pokok dan peningkatan upah nyata dari pengusaha.
Meningkatkan literasi keuangan dan strategi rumah tangga, Bagi pekerja, di era biaya hidup naik, penting untuk meningkatkan literasi keuangan yaitu mencatat pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan, dan mencari sumber penghasilan tambahan bila perlu. Meski situasi berat, ada ruang untuk perbaikan kondisi melalui tindakan kolektif dan kebijakan yang tepat.
Penutup
Kondisi biaya hidup naik sementara gaji tak beranjak mengingatkan kita bahwa realita pekerja di Indonesia 2025 masih penuh tantangan. Namun bukan berarti jalan buntu. Kebijakan ekonomi yang inklusif dan strategi rumah tangga yang cermat bisa membuka peluang untuk hidup layak.
Untuk update berita ekonomi, keuangan, dan kehidupan pekerja Indonesia, terus ikuti artikel dan analisis menarik hanya di Garap Media. Jangan lewatkan informasi penting lainnya agar kita bisa bergerak bersama menuju kesejahteraan yang lebih nyata.
Sumber Referensi
- Detik.com UMP Jakarta 2025 naik jadi Rp 5,39 juta, cukup buat hidup layak?
- Liputan6.com Gaji Layak pada 2025 Ternyata Segini, Penuhi Kebutuhan Dasar Ini
- Kompasiana.com Gaji Naik, Tetap Miskin? Cermin Rapuh Kelas Menengah Indonesia 2025
- Dealls.com Kisaran Biaya Hidup di Jakarta 2025 Untuk Single dan Keluarga!
