Berani Coba? Makanan Hakarl Islandia yang Bikin Banyak Orang Menyerah
Makanan hakarl adalah hidangan tradisional Islandia yang dikenal sebagai salah satu kuliner paling ekstrem di dunia. Terbuat dari daging hiu Greenland yang difermentasi selama berminggu-minggu, hakarl memiliki aroma menyengat dan rasa tajam yang menantang. Meski banyak orang menolak mencicipinya, bagi masyarakat Islandia, hidangan ini merupakan warisan budaya yang kaya makna (Wikipedia, 2025).
Sejarah hakarl mencerminkan ketahanan masyarakat Islandia menghadapi alam yang keras dan sumber daya terbatas. Dengan kreativitas tinggi, mereka mengubah daging hiu beracun menjadi makanan yang aman dan bisa disimpan lama. Kini, hakarl menjadi ikon kuliner yang memancing rasa penasaran wisatawan dari seluruh dunia.
Sejarah dan Latar Budaya Makanan Hakarl
Asal-usul dan kebutuhan adaptasi
Tradisi pembuatan hakarl muncul sejak ratusan tahun lalu ketika masyarakat Islandia harus bertahan di musim dingin panjang. Fermentasi menjadi solusi alami untuk menetralkan racun pada hiu Greenland sekaligus mengawetkannya agar bisa dikonsumsi sepanjang tahun (Wikipedia, 2025).
Hubungan dengan tradisi Þorrablót
Hakarl sering disajikan pada festival musim dingin Þorrablót sebagai bagian dari hidangan tradisional Þorramatur. Dalam perayaan tersebut, masyarakat Islandia mengenang perjuangan nenek moyang mereka dalam bertahan hidup di kondisi ekstrem (Atlas Obscura, n.d.).
Proses Produksi Makanan Hakarl
Fermentasi dan pengeringan
Proses pembuatan makanan hakarl dimulai dengan menimbun potongan hiu dalam tanah berkerikil selama 6–12 minggu untuk mengeluarkan cairan beracun. Setelah itu, daging digantung di udara terbuka selama beberapa bulan hingga kering dan berubah warna. Kulit luar kemudian dibuang, menyisakan daging yang siap disajikan (Atlas Obscura, n.d.).
Transformasi kimia dan mikroba
Selama fermentasi, zat beracun seperti urea diubah menjadi amonia dan senyawa volatil lain yang menghasilkan aroma khas. Bagian tubuh hiu disebut skyrhákarl (berwarna putih lembut), sedangkan bagian perutnya disebut glerhákarl (lebih kenyal dan kemerahan).
Cita Rasa dan Reaksi Wisatawan terhadap Makanan Hakarl
Aroma kuat dan pengalaman pertama
Aroma hakarl sering disamakan dengan bau amonia atau produk pembersih. Banyak wisatawan disarankan menutup hidung sebelum mencobanya. Bahkan tokoh kuliner terkenal Anthony Bourdain pernah menyebut hakarl sebagai makanan “paling menjijikkan” yang pernah dicoba (Atlas Obscura, n.d.).
Rasa dan tekstur unik
Mereka yang berhasil melewati gigitan pertama menggambarkan rasanya seperti keju busuk bercampur ikan asin. Biasanya, hakarl disantap dalam potongan kecil bersama brennivín, minuman keras khas Islandia, untuk menetralkan rasa tajamnya (Adventures.is, 2019).
Isu Keberlanjutan dan Kontroversi Makanan Hakarl
Hiu Greenland adalah salah satu spesies laut yang tumbuh paling lambat di dunia—bahkan bisa hidup lebih dari 400 tahun. Karena itu, banyak pihak menyoroti produksi hakarl yang dianggap dapat memengaruhi populasi hiu jika tidak dikontrol (Wikipedia, 2025). Namun, masyarakat Islandia berpendapat bahwa produksi hakarl kini dilakukan dalam skala terbatas sebagai pelestarian tradisi, bukan eksploitasi.
Budaya dan Pariwisata Makanan Hakarl
Museum hakarl di Bjarnarhöfn
Desa Bjarnarhöfn dikenal memiliki museum khusus yang memperlihatkan proses fermentasi tradisional hakarl. Pengunjung dapat mencium, melihat, bahkan mencoba langsung makanan ekstrem ini sebagai bagian dari pengalaman budaya Islandia (Atlas Obscura, n.d.).
Daya tarik kuliner ekstrem
Meski banyak yang takut mencobanya, hakarl justru menjadi daya tarik wisata kuliner. Bagi banyak turis, menyantap hakarl bukan sekadar soal rasa, tetapi simbol keberanian menjelajahi budaya yang autentik dan unik.
Makanan hakarl mungkin bukan untuk semua orang, tetapi kisah di baliknya mengajarkan tentang kreativitas manusia dalam menghadapi keterbatasan alam. Dari hiu beracun menjadi kuliner fermentasi legendaris, hakarl membuktikan bahwa rasa ekstrem pun bisa menyimpan nilai sejarah dan kebanggaan budaya.
Jika kamu tertarik membaca kisah kuliner ekstrem lainnya atau ingin tahu lebih banyak tentang tradisi makanan dunia, jangan lewatkan artikel menarik lainnya di Garap Media. Jelajahi dunia rasa, budaya, dan sejarah bersama kami!
Referensi
