Belanja Online – Menjelang musim belanja online akhir tahun, perilaku konsumen Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Belanja daring semakin menjadi pilihan utama, didorong oleh akses internet yang stabil, banyaknya platform e-commerce, serta promosi besar-besaran yang rutin muncul tiap akhir tahun. Tren ini diperkuat oleh data yang menunjukkan pergeseran konsumen ke kanal digital (Bisnis.com, 2025).
Di saat yang sama, meski frekuensi belanja meningkat, nilai rata-rata pembelian justru menurun. Konsumen kini lebih berhati-hati dan lebih fokus pada kebutuhan pokok dibanding produk sekunder seperti fashion atau elektronik—sebuah pola baru dalam belanja online akhir tahun (Jakpat Insight, 2025).
Pola Baru Konsumen dalam Belanja Online Akhir Tahun
Kebutuhan Pokok Jadi Prioritas
Survei menunjukkan bahwa konsumen kini lebih banyak mengalokasikan pengeluaran mereka untuk kebutuhan dasar. Peningkatan belanja daring juga terus didorong oleh penetrasi internet yang lebih luas serta inovasi logistik yang membuat proses pembelian semakin mudah dan cepat (Bisnis, 2025).
Sementara itu, temuan lain mengungkap bahwa pengeluaran rata-rata konsumen online turun sekitar 13%. Penurunan ini menandakan bahwa konsumen semakin selektif dalam berbelanja dan lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas pembelian (Jakpat Insight, 2025).
Pengaruh Program Pemerintah dan Promo Akhir Tahun
Stimulus seperti Harbolnas dan kampanye “Belanja di Indonesia Aja (BINA)” terbukti efektif mendorong peningkatan belanja online menjelang akhir tahun. Momentum ini membuat minat konsumen terhadap promo dan produk lokal semakin kuat.
Pada Harbolnas 2024, nilai transaksi bahkan menembus lebih dari Rp31 triliun, dengan 52% produk berasal dari UMKM lokal. Angka tersebut menunjukkan bahwa program nasional mampu memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi digital dan pelaku usaha dalam negeri (Ekon, 2024).
Teknologi Mempercepat Transformasi Belanja Online
Social Commerce & Live Shopping
Media sosial seperti TikTok Shop kini memiliki pengaruh besar terhadap keputusan belanja konsumen. Riset menunjukkan bahwa 62% Gen Z melakukan pembelian melalui live shopping, menjadikannya salah satu kanal transaksi yang paling cepat berkembang (Jakpat Insight, 2025).
Tren ini juga menandai munculnya era baru belanja impulsif yang dipicu oleh interaksi real-time. Konten yang menarik, host yang persuasif, dan rasa urgensi membuat konsumen lebih mudah mengambil keputusan pembelian secara spontan (Marketing, 2025).
Metode Pembayaran Fleksibel: BNPL
Metode Buy Now Pay Later (BNPL) kini menjadi pilihan utama generasi muda untuk menjaga arus kas mereka selama musim belanja akhir tahun. Fitur cicilan tanpa kartu kredit ini memberi fleksibilitas yang membuat konsumen tetap bisa berbelanja tanpa membebani keuangan langsung.
Skema BNPL juga semakin populer ketika diskon besar dan promo ongkir mendominasi berbagai platform. Kombinasi promo dan kemudahan pembayaran membuat banyak konsumen merasa lebih nyaman menunda pembayaran sambil tetap memanfaatkan momentum penawaran menarik (Marketing, 2025).
AI dan Chatbot Mengubah Pengalaman Belanja Online
Sistem rekomendasi otomatis, chatbot, dan algoritma AI kini berperan besar dalam meningkatkan efisiensi proses belanja. Teknologi ini membantu konsumen menemukan produk dengan lebih cepat dan mempersingkat langkah yang biasanya memakan waktu (Reuters, 2025).
Selain itu, kemampuan AI dalam mempersonalisasi pilihan membuat pengalaman belanja menjadi lebih relevan bagi setiap pengguna. Rekomendasi yang disesuaikan dengan preferensi individu membuat konsumen merasa lebih terbantu dan nyaman saat berbelanja online.
Dampak Belanja Online Akhir Tahun bagi Industri
Kebangkitan UMKM Lokal
Kampanye belanja nasional dan perubahan preferensi konsumen mendorong produk lokal semakin mendominasi pasar akhir tahun. Momentum ini menciptakan ruang lebih besar bagi brand dalam negeri untuk tampil di berbagai platform digital (Ekon, 2024).
UMKM pun mendapat perhatian lebih luas berkat peningkatan minat terhadap produk lokal. Dengan akses pasar yang semakin terbuka, pelaku usaha kecil semakin mampu bersaing dan memperkuat posisinya di ekosistem ekonomi digital.
Persaingan Ketat dan Margin Menyusut
Meski jumlah transaksi terus meningkat, rata-rata nilai belanja konsumen justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengguna semakin berhati-hati dan selektif dalam menentukan produk yang ingin dibeli (ANTARA News, 2025).
Untuk menjaga loyalitas pengguna, platform e-commerce perlu lebih kreatif dalam menawarkan promo. Inovasi seperti bundling, diskon musiman, hingga program loyalti menjadi strategi penting untuk mempertahankan minat belanja konsumen.
Baca Juga: Transaksi E-Commerce Indonesia 2025 Tembus Rp44,4 Triliun Siapa Yang Dominan?
Tantangan dan Peluang Ke Depan dalam Belanja Online
Kepercayaan Konsumen & Pengelolaan Retur
Volume transaksi yang semakin tinggi secara langsung meningkatkan potensi terjadinya retur barang. Ketika pembelian berlangsung dalam jumlah besar, variasi kualitas produk, kesalahan pengiriman, hingga ketidaksesuaian ekspektasi konsumen pun makin mungkin terjadi.
Di sisi lain, konsumen kini jauh lebih teliti dalam memastikan keamanan transaksi, mulai dari keaslian produk hingga transparansi kebijakan toko. Proses pengembalian barang yang jelas, cepat, dan tidak rumit menjadi faktor penting yang menentukan apakah mereka akan kembali berbelanja atau justru beralih ke platform lain.
Literasi Digital dan Finansial
E-commerce dan pemerintah dapat berkolaborasi untuk meningkatkan literasi konsumen, khususnya dalam memahami cara kerja diskon agar tidak mudah terjebak iming-iming harga murah. Edukasi ini juga penting untuk mendorong kebiasaan belanja yang lebih rasional dan aman.
Selain itu, kerja sama ini dapat membantu masyarakat memahami berbagai skema pembayaran modern, mulai dari paylater hingga cicilan digital. Dengan pemahaman yang lebih baik, konsumen bisa mengambil keputusan finansial yang lebih sehat dan meminimalkan risiko penggunaan layanan secara berlebihan.
Penutup
Belanja online akhir tahun bukan lagi sekadar ajang berburu diskon, tetapi mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat: lebih selektif, lebih rasional, tetapi tetap memanfaatkan momentum promo. Teknologi semakin memperkuat perilaku belanja digital, dan UMKM pun mendapatkan panggung lebih besar.
Trend ini kemungkinan akan terus berkembang, sehingga penting bagi konsumen dan pelaku industri untuk mengikuti pembaruan informasi. Ikuti terus berita dan analisis terbaru hanya di Garap Media.
Referensi
- idEA Ungkap Faktor Pendorong Pola Belanja Masyarakat Beralih ke Online.
- Online Shopping 2025: Essentials Rise, Secondary Products Decline.
- Didominasi Penjualan Produk Lokal, Program Belanja Murah Akhir Tahun 2024 Mampu Bukukan Transaksi Hingga Puluhan Triliun Rupiah
- Tren Belanja Akhir Tahun 2025: TikTok, BNPL, dan AI.
- 2024 Online Shopping Trends: 62% of Gen Z Shop via Live Shopping.
- AI-Influenced Shopping Boosts Online Holiday Sales.
- Penjualan E-Commerce Naik, Nilai Belanja Turun Imbas Rojali Rohana.
