Di tengah arus zaman yang serba cepat, pesantren tetap menjaga satu tradisi yang tak lekang waktu yaitu dengan belajar kitab kuning. Kitab ini bukan sekadar buku tebal berbahasa Arab tanpa harakat, melainkan warisan keilmuan Islam yang mengajarkan ketenangan, kesabaran, dan kedalaman makna.
Makna Kitab Kuning di Dunia Pesantren
Bagi para santri, kitab kuning adalah pembimbing kedua setelah ustadz/teungku (sebutan orang Aceh). Di dalamnya tersimpan ajaran para ulama salaf tentang akidah, fikih, tasawuf, adab dan lainnya. Huruf-hurufnya mungkin tampak sederhana, tapi maknanya bisa membuka pintu pemahaman yang luas tentang kehidupan.
Belajar kitab kuning bukan hanya soal membaca dan menerjemah, tetapi juga soal adab. Santri duduk bersila di hadapan ustadz/teungku (sebutan orang Aceh), membuka kitab dengan penuh hormat. Setiap baris dibaca perlahan, dijelaskan maknanya, dan direnungi maknawi-nya. Dari sinilah muncul ketenangan hati sebagaimana para sufi menapaki jalan ilmu dengan rendah hati.
Baca juga: https://lampung.nu.or.id/pernik/5-cara-mudah-bisa-membaca-kitab-kuning-UXTAJ
Proses yang Menyucikan Jiwa
Dalam tradisi sufisme, ilmu tidak akan menetap di hati yang sombong. Karena itu, belajar kitab kuning menjadi latihan menundukkan ego. Santri tidak hanya menghafal, tetapi juga membersihkan hati agar ilmu membawa berkah. Kesabaran dalam memahami satu kalimat bisa menjadi latihan spiritual, sama berharganya dengan zikir yang panjang.
Menjaga Warisan Ulama
Pesantren di Aceh dan Nusantara terus menjaga tradisi kitab kuning agar tidak hilang ditelan zaman. Kitab-kitab karya ulama besar seperti Imam Nawawi, Imam Ghazali, dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani tetap diajarkan sebagai cahaya penuntun. Tradisi ini bukan hanya bentuk belajar, tetapi juga tawasul menghubungkan santri dengan sanad keilmuan yang suci.
Baca juga: https://garapmedia.com/zikir-sebagai-nafas-hidup-warisan-tasawuf-di-aceh/
Penutup
Belajar kitab kuning adalah perjalanan jiwa, bukan sekadar pencarian pengetahuan. Dari huruf-huruf tanpa harakat itu, santri belajar arti kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Inilah jalan para pencari kebenaran jalan yang menghidupkan ilmu dengan hati yang bersih.
