Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan sistem transaksi digital, masyarakat di Desa Warloka Pesisir, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru masih setia mempertahankan sistem barter sebagai cara bertransaksi. Praktik ekonomi tradisional ini berlangsung di Pasar Warloka dan terus dijalankan secara konsisten oleh warga setempat sebagai bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun (ANTARA News, 2026; Kumparan, 2026).
Tidak hanya dipertahankan, tradisi barter di Pasar Warloka kini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya. Upaya ini dilakukan seiring dengan pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas nasional, dengan tujuan menghadirkan pengalaman wisata yang autentik dan berbasis kearifan lokal (Kumparan, 2026).
Pasar Barter Warloka, Warisan Ekonomi Tradisional
Pasar barter Warloka telah ada sejak awal masa kemerdekaan Indonesia. Saat itu, keterbatasan akses uang tunai membuat masyarakat pesisir dan pedalaman mengandalkan sistem tukar-menukar. Cara ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Petani dari wilayah daratan membawa hasil kebun, seperti ubi, pisang, dan sayur-mayur. Sementara itu, nelayan dari pesisir menukarkannya dengan ikan segar hasil tangkapan laut (KlikLabuanbajo.id, 2024).
Hingga kini, pola transaksi tersebut masih dipertahankan. Uang tidak digunakan sebagai alat pembayaran dalam kegiatan barter ini. Nilai tukar ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Penentuan tersebut tidak mengacu pada harga pasar. Inilah yang membuat Pasar Warloka memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. Pasar ini menjadi simbol kebersamaan serta gotong royong masyarakat Manggarai Barat (detikFinance, 2026).
Dari Aktivitas Lokal Menjadi Atraksi Wisata Budaya
Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata ke Labuan Bajo, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melihat potensi besar Pasar Warloka untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya. Pasar ini kemudian diposisikan bukan hanya sebagai tempat transaksi ekonomi lokal, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung praktik barter yang kini semakin langka (Kumparan, 2026).
Wisatawan yang datang dapat melihat secara langsung proses pertukaran hasil pertanian dengan hasil laut, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat setempat. Kehadiran pasar barter ini memberikan alternatif destinasi wisata selain wisata alam, sehingga memperkaya pengalaman berkunjung ke Manggarai Barat (ANTARA News, 2026).
Jadwal dan Komoditas Utama Pasar Warloka
Pasar Warloka hanya digelar satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Selasa. Pada hari tersebut, masyarakat dari berbagai wilayah sekitar Desa Warloka Pesisir berkumpul sejak pagi hari untuk melakukan transaksi barter (Kumparan, 2026).
Komoditas yang dipertukarkan umumnya berupa hasil pertanian seperti singkong, jagung, pisang, sayuran, dan hasil kebun lainnya. Komoditas tersebut ditukar dengan ikan laut, garam, atau hasil tangkapan nelayan. Kesederhanaan transaksi ini justru menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi warga lokal maupun wisatawan (detikFinance, 2026).
Menjaga Tradisi Agar Tetap Relevan
Meski telah dikembangkan sebagai destinasi wisata, pemerintah daerah dan masyarakat setempat tetap berupaya menjaga praktik barter di Pasar Warloka. Tradisi ini diharapkan tetap berjalan secara alami dan tidak kehilangan nilai budayanya. Komersialisasi yang berlebihan dikhawatirkan dapat menggeser makna barter. Tradisi tersebut bisa berubah dari simbol kebersamaan menjadi sekadar tontonan.
Oleh karena itu, pengembangan pasar barter dilakukan dengan pendekatan pelestarian budaya. Masyarakat tetap ditempatkan sebagai aktor utama dalam kegiatan ini. Sementara itu, pemerintah berperan sebagai fasilitator. Peran tersebut diwujudkan melalui promosi dan perbaikan infrastruktur pendukung. Semua upaya dilakukan tanpa mengubah esensi tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun (KlikLabuanbajo.id, 2024).
Keberadaan Pasar Barter Warloka membuktikan bahwa tradisi lama masih dapat bertahan dan bahkan relevan di tengah arus modernisasi. Dengan dukungan pemerintah dan kesadaran masyarakat, pasar ini kini tidak hanya menjadi sarana pemenuhan kebutuhan, tetapi juga simbol identitas budaya Manggarai Barat.
Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak kisah unik tentang budaya dan pariwisata Indonesia, simak berita dan artikel menarik lainnya hanya di Garap Media.
Referensi
