Banjir Aceh Timur kembali melanda wilayah tersebut, memaksa ribuan warga mengungsi untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir. Hujan deras yang terjadi sejak beberapa hari terakhir membuat sungai meluap dan merendam permukiman di sejumlah kecamatan (Antara News, 2026).
Selain banjir, angin puting beliung juga merusak rumah warga dan bangunan dayah, memperparah kondisi warga yang sudah terdampak bencana sebelumnya (RRI, 2026). Banyak warga panik karena kondisi datang bertubi-tubi tanpa jeda.
Banjir Aceh Timur Rendam Banyak Kecamatan
Menurut BPBD Aceh Timur, banjir melanda hingga 10 kecamatan, dengan ratusan rumah dan fasilitas umum terendam. Jalan utama di beberapa desa ikut terendam, menghambat akses warga dan kegiatan ekonomi setempat (BekasiTerkini.net, 2026).
Ketinggian air mencapai 80 cm di beberapa titik, memaksa warga harus mengungsi kembali. Lebih dari 41 desa terdampak banjir susulan, membuat sebagian warga yang sempat kembali ke rumah terpaksa mengungsi lagi (Beritasore.co.id, 2026).
Warga yang tinggal di dataran rendah dan dekat sungai menjadi kelompok yang paling terdampak. Banyak fasilitas sekolah dan tempat ibadah ikut terendam sehingga aktivitas masyarakat terhenti.
Warga Kembali Mengungsi Akibat Banjir Susulan
Akibat banjir susulan, warga mengevakuasi diri ke lokasi yang lebih aman. Beberapa tempat ibadah, sekolah, dan rumah kerabat dijadikan tempat pengungsian sementara. Ribuan warga dari keluarga terdampak harus meninggalkan rumah untuk menghindari risiko keselamatan (Mediapatriot.co.id, 2026).
Kondisi ini menimbulkan kelelahan fisik dan mental bagi warga, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Banyak warga kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok karena jalan-jalan terendam.
Beberapa pengungsi melaporkan kesulitan mendapatkan makanan dan obat-obatan, sehingga tim BPBD dan relawan bekerja keras untuk mendistribusikan bantuan darurat.
Puting Beliung Perparah Dampak Bencana
Tidak hanya banjir, wilayah Aceh Timur juga dilanda angin puting beliung. Puting beliung merusak rumah warga dan bangunan dayah (pesantren), sehingga aktivitas belajar mengajar terganggu (RRI, 2026).
Gabungan banjir dan angin kencang menunjukkan tingginya risiko cuaca ekstrem di wilayah Aceh Timur, terutama saat puncak musim hujan. Kerusakan ini menambah beban warga yang sebelumnya sudah kehilangan rumah atau mengalami kerusakan ringan akibat hujan deras sebelumnya.
Respons BPBD dan Pemerintah Daerah
BPBD Aceh Timur bersama pemerintah daerah terus melakukan pendataan dampak banjir dan menyiagakan petugas evakuasi di wilayah rawan. Warga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan mengikuti arahan petugas (WaspadaAceh.com, 2026).
Koordinasi dengan aparat desa dilakukan untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman serta kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, obat-obatan, dan air bersih, terpenuhi.
BPBD juga menghimbau warga agar tetap tenang dan tidak panik, serta selalu memantau informasi terbaru terkait kondisi cuaca dan aliran sungai.
Banjir Aceh Timur menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia. Kesiapsiagaan masyarakat dan respons cepat pemerintah menjadi kunci untuk meminimalkan dampak lebih besar.
Ikuti terus berita terkini dan analisis mendalam lainnya hanya di Garap Media, sumber informasi terpercaya untuk memahami berbagai peristiwa penting di Indonesia. Informasi lengkap dan akurat akan membantu masyarakat lebih siap menghadapi bencana di masa depan.
Referensi
