Bahaya Penyakit Papiloma Mengintai: Fakta HPV yang Wajib Diketahui
Penyakit papiloma, yang sering dikaitkan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), menjadi perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Infeksi ini dapat menimbulkan kutil atau lesi pada kulit maupun selaput lendir, dan pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi kanker, terutama kanker serviks.
Dalam beberapa tahun terakhir, data dari penelitian dan laporan kesehatan menunjukkan tingginya prevalensi HPV di Indonesia. Hal ini berdampak pada meningkatnya risiko papiloma serta komplikasi jangka panjang yang lebih serius. Pemahaman dan pencegahan menjadi kunci utama bagi masyarakat.
Apa Itu Penyakit Papiloma?
Penyakit papiloma adalah pertumbuhan jaringan jinak akibat infeksi HPV. Virus ini dapat menginfeksi kulit, area genital, mulut, hingga tenggorokan. Banyak infeksi HPV yang sembuh sendiri tanpa gejala, tetapi tipe berisiko tinggi dapat menyebabkan lesi prakanker hingga kanker serviks (Kompas.com, 2022).
Bagaimana Penyakit Papiloma Menyebar?
Penularan HPV dapat terjadi melalui kontak kulit, hubungan seksual tanpa pengaman, serta kontak dengan area terinfeksi. Sebagian besar orang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya, sehingga edukasi menjadi penting untuk pencegahan (Kemenkes RI, 2023).
Prevalensi HPV di Indonesia
Penelitian berbasis populasi di tiga wilayah Indonesia menemukan bahwa prevalensi HPV mencapai sekitar 11,4%—dengan tipe HPV 52 sebagai yang paling banyak ditemukan, disusul HPV 16 dan 18 (NCBI/PMC, 2008).
Gejala dan Dampak Penyakit Papiloma
Gejala papiloma meliputi kutil kecil, benjolan tidak biasa, atau lesi datar pada area sensitif. Pada wanita, infeksi HPV risiko tinggi berpotensi menyebabkan perubahan sel serviks yang dapat berkembang menjadi kanker jika tidak terdeteksi (Majalah Kedokteran Andalas, 2025).
Kutil kelamin yang disebabkan HPV juga menjadi salah satu bentuk papiloma yang paling sering ditemukan. Kompas.com mencatat bahwa kutil ini bisa muncul secara tunggal maupun bergerombol dan tampak seperti kembang kol.
Diagnosis dan Penanganan Penyakit Papiloma
Pemeriksaan Medis
Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan fisik, pap smear, tes HPV DNA, atau biopsi. Pemeriksaan rutin sangat direkomendasikan terutama bagi wanita berusia 21 tahun ke atas (Kompas.com, 2022).
Pilihan Pengobatan
Beberapa metode penanganan meliputi:
- Krio-terapi untuk membekukan jaringan abnormal
- Obat topikal untuk menghambat pertumbuhan kutil
- Tindakan bedah kecil untuk mengangkat lesi berisiko tinggi
Penanganan dini dapat mengurangi risiko komplikasi seperti kanker serviks (MKA, 2025).
Pencegahan Penyakit Papiloma
Vaksinasi HPV
Vaksin HPV merupakan cara paling efektif dalam mencegah infeksi HPV berisiko tinggi. Pada 2023, pemerintah memperluas program imunisasi HPV secara nasional untuk melindungi anak perempuan Indonesia dari risiko kanker serviks (WHO Indonesia, 2023).
ANTARA News juga melaporkan bahwa vaksin HPV terbaru mampu melindungi masyarakat dari sembilan tipe virus, termasuk tipe berisiko tinggi yang banyak ditemukan di Indonesia (ANTARA, 2025).
Edukasi dan Pemeriksaan Rutin
Pendidikan kesehatan dan pemeriksaan berkala menjadi kunci penting pencegahan. Banyak mahasiswa di Indonesia bahkan belum memahami risiko HPV dengan benar (Jusindo, 2023). Karena itu, akses informasi terpercaya sangat dibutuhkan.
Penyakit papiloma bukan hanya gangguan kulit sederhana. Infeksi HPV dapat berdampak serius apabila tidak ditangani, terutama jika berkaitan dengan tipe berisiko tinggi yang berpotensi menyebabkan kanker. Dengan vaksinasi, pemeriksaan dini, dan edukasi yang tepat, risiko komplikasi dapat ditekan secara signifikan.
Untuk informasi kesehatan lainnya, pembaca dapat mengikuti artikel terbaru di Garap Media. Kami selalu menyajikan berita akurat dan relevan untuk membantu Anda tetap waspada serta memahami isu kesehatan terbaru.
Referensi
