Badak Kalimantan Tinggal Dua Ekor Betina, Program Bayi Tabung Jadi Harapan Terakhir Cegah Kepunahan

Last Updated: 13 June 2026, 20:53

Bagikan:

Badak Kalimantan Program Bayi Tabung
Badak Kalimantan kini hanya menyisakan dua individu betina, menjadikan setiap langkah penyelamatan sebagai penentu masa depan spesies langka ini. Program translokasi dan reproduksi berbantuan diharapkan mampu membuka harapan baru agar badak Kalimantan tidak benar-benar hilang dari hutan Indonesia. Sumber gambar: BKSDA Kalimantan Timur.
Table of Contents

Badak Kalimantan kini berada di titik paling kritis dalam sejarah konservasinya. Indonesia hanya mengetahui keberadaan dua ekor badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang masih hidup, yakni Pahu dan Pari Mahulu. Keduanya berjenis kelamin betina sehingga tidak memiliki peluang berkembang biak secara alami. Kondisi tersebut membuat program reproduksi berbantuan atau bayi tabung menjadi harapan terakhir untuk mencegah subspesies langka ini punah (ANTARA Kaltim, 2026).

Badak Kalimantan Hanya Tersisa Pahu dan Pari Mahulu

Badak Kalimantan merupakan subspesies badak sumatra yang dahulu menghuni hutan-hutan Pulau Kalimantan. Namun, perburuan liar, fragmentasi habitat, dan rendahnya populasi menyebabkan jumlahnya terus menyusut hingga berada di ambang kepunahan.

Dua individu terakhir yang diketahui masih hidup adalah Pahu dan Pari Mahulu (ANTARA Kaltim, 2026).

  • Pahu merupakan badak betina yang kini hidup dalam pengelolaan konservasi di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur.
  • Pari Mahulu merupakan badak betina yang masih hidup liar di hutan Kabupaten Mahakam Ulu.
  • Keduanya menjadi harapan terakhir bagi kelangsungan badak Kalimantan.
  • Tidak adanya pejantan membuat reproduksi alami hampir mustahil terjadi.

Kondisi terisolasi tanpa pasangan membuat Pari tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan keturunannya secara alami (ANTARA Kaltim, 2026).

Pari Mahulu Menjadi Fokus Penyelamatan Badak Kalimantan

Status Pari Mahulu sebagai satu-satunya badak Kalimantan yang masih bertahan di habitat liar menjadikannya pusat perhatian dunia konservasi.

Para pegiat konservasi menilai penyelamatan Pari harus dilakukan sesegera mungkin. Jika Pari mati sebelum sempat diselamatkan, Indonesia berisiko kehilangan materi genetik terakhir yang sangat penting bagi kelangsungan subspesies tersebut.

BKSDA Kalimantan Timur bersama sejumlah mitra telah menyusun strategi penyelamatan melalui translokasi menuju lokasi konservasi yang lebih aman.

Beberapa alasan penyelamatan Pari menjadi prioritas meliputi:

  • Pari hidup sendirian tanpa pejantan.
  • Risiko kematian di habitat liar tetap ada.
  • Materi genetik Pari sangat berharga.
  • Populasi badak Kalimantan sudah mencapai titik kritis.
  • Kesempatan penyelamatan semakin sempit seiring berjalannya waktu.

Membiarkan Pari tetap terisolasi merupakan risiko yang terlalu besar karena kepunahan dapat terjadi kapan saja apabila badak tersebut tidak terselamatkan (ANTARA Kaltim, 2026).

Simulasi Translokasi Pari Mahulu Sudah Dilakukan

Upaya penyelamatan Pari ternyata telah memasuki tahap teknis. BKSDA Kalimantan Timur sebelumnya menggelar simulasi translokasi sebagai bagian dari persiapan evakuasi badak tersebut dari Mahakam Ulu.

Simulasi tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT), dokter hewan, petugas lapangan, serta tim teknis lainnya.

Tujuan simulasi meliputi:

  • Menguji prosedur penangkapan satwa.
  • Memastikan keselamatan Pari selama proses pemindahan.
  • Meminimalkan tingkat stres pada satwa.
  • Menyusun standar komunikasi antartim.
  • Mengantisipasi berbagai kondisi darurat di lapangan.

Translokasi menjadi langkah darurat yang dinilai sebagai kesempatan terakhir untuk menyelamatkan badak Kalimantan dari kepunahan (ANTARA Kaltim, 2026).

Program Bayi Tabung Menjadi Harapan Terakhir

Setelah proses translokasi selesai, Pari akan menjalani masa adaptasi di Suaka Badak Kelian. Tim konservasi akan melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum memasuki tahapan reproduksi berbantuan.

Program bayi tabung dipilih karena reproduksi alami tidak lagi memungkinkan dilakukan. Teknologi tersebut diharapkan mampu membuka peluang lahirnya generasi baru badak Kalimantan melalui pemanfaatan materi genetik yang masih tersedia.

Tahapan program tersebut meliputi:

  • Adaptasi di fasilitas konservasi.
  • Pemeriksaan kesehatan reproduksi.
  • Pengambilan sel telur.
  • Penyimpanan materi biologis.
  • Pengembangan teknologi fertilisasi berbantuan.
  • Pendampingan intensif oleh tim ahli.

Usia Pari yang relatif lebih muda serta kondisi tubuhnya yang masih sehat menjadi modal penting untuk menjalani tahapan reproduksi modern tersebut (ANTARA Kaltim, 2026).

Menurut Tim Ahli Reproduksi Badak Indonesia, drh. Muhammad Agil, Pari masih memiliki potensi reproduksi yang dapat dimanfaatkan dalam program penyelamatan genetik. Selain itu, peluang pengembangan teknologi konservasi berbasis penyimpanan material biologis juga terbuka untuk mendukung upaya pelestarian pada masa depan (Presisi.co, 2026).

Habitat Mahakam Ulu Tetap Dilindungi

Pemindahan Pari tidak berarti habitat aslinya akan ditinggalkan. Sebaliknya, pemerintah memastikan kawasan hutan tempat badak tersebut hidup tetap dipertahankan sebagai benteng konservasi.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menegaskan bahwa kawasan tersebut akan terus dijaga dan diusulkan menjadi areal preservasi. Langkah tersebut dilakukan agar habitat alami badak tetap tersedia apabila program reproduksi berhasil menghasilkan keturunan baru.

Upaya perlindungan habitat meliputi:

  • Pengawasan kawasan hutan.
  • Pencegahan aktivitas ilegal.
  • Pemantauan satwa menggunakan camera trap.
  • Kolaborasi dengan masyarakat adat.
  • Edukasi masyarakat sekitar.
  • Penguatan status perlindungan kawasan.

Kawasan tersebut dipertahankan agar kelak dapat menjadi lokasi pelepasliaran apabila program reproduksi berhasil menghasilkan keturunan baru (Presisi.co, 2026).

Badak Kalimantan Menjadi Pengingat Pentingnya Konservasi

Kisah Pahu dan Pari Mahulu menunjukkan bahwa kepunahan bukan sekadar ancaman di masa depan. Kepunahan dapat terjadi ketika populasi satwa terus menyusut tanpa upaya penyelamatan yang cepat dan terukur.

Sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang tidak tergantikan, badak Kalimantan membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, masyarakat adat, organisasi konservasi, dan publik menjadi sangat penting agar spesies ini tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang biak kembali.

Garap Media akan terus menghadirkan informasi terkini mengenai lingkungan, konservasi, dan berbagai isu penting lainnya. Dukungan pembaca terhadap pemberitaan lingkungan dapat membantu meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya di Garap Media untuk mendapatkan informasi terbaru seputar satwa langka, kebijakan lingkungan, dan kisah inspiratif dari berbagai daerah. Setiap bacaan Anda dapat menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian alam Indonesia.

Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /