Novel Babel karya R.F. Kuang menjadi salah satu novel fantasi akademik yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Diterbitkan pada 2022, novel ini menggabungkan sejarah alternatif, linguistik, dan kritik kolonialisme dalam satu narasi yang padat dan provokatif (Wikipedia, 2022).
Di Indonesia, novel Babel juga mulai mendapat perhatian pembaca sastra karena tema bahasa dan penerjemahan yang jarang diangkat secara populer. Sejumlah media lokal menilai karya ini relevan dengan diskursus kekuasaan, identitas, dan dominasi budaya yang masih terjadi hingga hari ini (Kumparan, 2024).
Sinopsis Singkat Novel Babel
Dunia Akademik dan Bahasa sebagai Kekuatan
Novel Babel berlatar di Oxford abad ke-19 dalam dunia alternatif, dengan pusat cerita pada Royal Institute of Translation atau Babel. Institut ini memanfaatkan kekuatan magis dari penerjemahan bahasa untuk mendukung kejayaan Imperium Britania. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sumber kekuasaan ekonomi dan politik (Wikipedia, 2022).
Tokoh utama Robin Swift, seorang anak yatim piatu asal Kanton, dibawa ke Inggris untuk dididik menjadi penerjemah elit. Seiring waktu, Robin menyadari bahwa ilmu bahasa yang ia pelajari digunakan untuk menindas bangsa-bangsa lain, termasuk tanah kelahirannya sendiri.
Novel Babel dan Kritik Kolonialisme
Bahasa sebagai Alat Kekuasaan
Salah satu gagasan utama dalam novel Babel adalah bagaimana bahasa dan penerjemahan berperan sebagai alat kolonialisme. Kuang menggambarkan bahwa proses penerjemahan sering kali menghilangkan makna budaya asli demi kepentingan pihak yang berkuasa (FIB UI, 2023).
Melalui konflik para tokohnya, pembaca diajak melihat dilema moral kaum terpelajar yang menikmati privilese akademik, namun di saat yang sama terjebak dalam sistem penindasan yang mereka dukung secara tidak langsung.
Relevansi dengan Isu Global
Meski berlatar sejarah, tema novel Babel dinilai relevan dengan kondisi global saat ini. Isu dominasi bahasa global, ketimpangan pengetahuan, dan eksploitasi budaya masih menjadi perdebatan di berbagai negara, termasuk di dunia akademik modern (Brilio.net, 2024).
Gaya Penulisan dan Pendekatan Akademik
Fantasi Akademik dengan Catatan Kaki
Keunikan novel Babel terletak pada penggunaan catatan kaki yang menyerupai tulisan akademik. R.F. Kuang menyisipkan penjelasan sejarah dan linguistik untuk memperkuat dunia cerita, sehingga pembaca tidak hanya menikmati fiksi, tetapi juga mendapatkan konteks ilmiah yang mendalam (Wikipedia, 2022).
Pendekatan ini membuat novel terasa berbeda dari fantasi pada umumnya. Meski dianggap berat oleh sebagian pembaca, gaya tersebut justru menjadi daya tarik utama bagi mereka yang menyukai bacaan reflektif dan kritis.
Respons Pembaca dan Media
Apresiasi dan Kritik
Media lokal menilai novel Babel sebagai karya yang berani dan relevan. Kumparan menyebut novel ini sebagai bacaan penting yang membuka diskusi tentang peran bahasa dan penerjemahan dalam struktur kekuasaan global (Kumparan, 2024).
Namun, ada pula pembaca yang menilai pesan politik dalam novel ini disampaikan terlalu gamblang. Terlepas dari perbedaan pandangan, Babel tetap dianggap sukses memicu diskusi luas di kalangan pembaca sastra.
Novel Babel bukan hanya sebuah karya fantasi, tetapi juga refleksi kritis tentang sejarah kolonialisme dan kekuasaan bahasa. Lewat cerita yang kompleks dan penuh makna, R.F. Kuang mengajak pembaca untuk mempertanyakan netralitas ilmu pengetahuan dan bahasa.
Untuk membaca ulasan sastra, budaya, dan isu global lainnya, jangan lewatkan artikel menarik di Garap Media. Temukan berbagai perspektif kritis dan informatif hanya di Garap Media.
Referensi
