Infrastruktur AI Asia – Siapa pun bisa menggunakannya, siapa pun bisa mengaksesnya, dan siapa pun bisa membangunnya. Narasi itu terdengar demokratis dan progresif. Namun realitasnya jauh lebih struktural. AI modern berdiri di atas pusat data raksasa, ribuan chip GPU, dan investasi miliaran dolar yang terkonsentrasi di segelintir negara. Ketika kita membicarakan AI, kita sebenarnya sedang membicarakan siapa yang memiliki infrastruktur, bukan sekadar siapa yang menggunakan aplikasi.
Inilah pertanyaan yang jarang dibahas: mengapa Asia, dengan populasi terbesar dan pertumbuhan ekonomi digital tercepat, lebih sering menjadi pasar AI ketimbang pemilik fondasi teknologinya?
Infrastruktur AI Asia dan Ketimpangan Global
Menurut AI Index Report 2024 dari Stanford University, sebagian besar model AI frontier dikembangkan oleh perusahaan berbasis di Amerika Serikat, dengan Tiongkok sebagai pesaing utama. Negara lain, termasuk di Asia Tenggara, kontribusinya relatif kecil dalam pengembangan model berskala besar. Laporan tersebut menekankan bahwa faktor pembeda utama bukan sekadar talenta, melainkan akses terhadap komputasi skala besar dan pendanaan riset miliaran dolar.
Di sisi infrastruktur cloud, laporan Reuters (2023) menunjukkan tiga perusahaan, Amazon Web Services, Microsoft, dan Google, menguasai lebih dari 65% pasar cloud global. Cloud bukan layanan tambahan; ia adalah tulang punggung pelatihan dan operasional AI modern. Tanpa akses komputasi ini, negara sulit membangun model AI skala besar.
Ledakan AI generatif memperjelas ketimpangan tersebut. Bloomberg melaporkan bahwa kapitalisasi pasar NVIDIA sempat melampaui USD 1 triliun pada 2023 akibat lonjakan permintaan chip AI. Pelatihan satu model bahasa besar dapat membutuhkan ribuan GPU dengan biaya puluhan hingga ratusan juta dolar. Artinya, hanya entitas dengan akses modal dan infrastruktur besar yang mampu bermain di level paling atas.
Menurut World Bank, kesenjangan digital kini bergeser dari sekadar akses internet menjadi kesenjangan kapasitas komputasi dan kepemilikan pusat data. Negara yang menguasai pusat data dan chip, menguasai arah AI.
Mengapa Infrastruktur AI Asia Masih Tertinggal?
Asia bukan wilayah yang tertinggal dalam adopsi. Justru sebaliknya. Laporan e-Conomy SEA 2023 oleh Google bersama Temasek dan Bain & Company memproyeksikan ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD 330 miliar pada 2025, dengan Indonesia sebagai kontributor terbesar.
Namun angka besar itu tidak otomatis berarti kepemilikan infrastruktur. Sebagian besar perusahaan teknologi di Asia Tenggara masih bergantung pada penyedia cloud global. Ketika startup lokal berkembang dan trafik meningkat, biaya komputasi dan margin infrastruktur mengalir keluar kawasan. Kita menghasilkan data, kita mengonsumsi layanan, tetapi nilai tambah tertinggi tetap berada di luar.
Di sinilah paradoksnya: Asia adalah pasar AI yang sangat menjanjikan, tetapi belum menjadi pusat kendali infrastrukturnya.
Mengapa Asia Tertinggal dalam Kepemilikan Infrastruktur?
Ada beberapa faktor struktural:
Pertama, investasi awal yang sangat besar. Membangun pusat data hyperscale membutuhkan miliaran dolar, belum termasuk pasokan listrik stabil dan jaringan fiber optik berskala luas. Tidak semua negara memiliki kesiapan fiskal dan regulasi untuk itu.
Kedua, dominasi rantai pasok chip. Produksi GPU dan semikonduktor canggih sangat terkonsentrasi. Tanpa akses stabil ke chip kelas atas, pengembangan AI frontier hampir mustahil dilakukan.
Ketiga, konsolidasi ekosistem. Negara pemilik infrastruktur juga memiliki ekosistem riset, venture capital, dan kebijakan industri yang terintegrasi. AI bukan berdiri sendiri; ia bagian dari strategi geopolitik teknologi.
Dampaknya bagi Masa Depan Ekonomi Asia
AI akan menentukan produktivitas manufaktur, efisiensi logistik, sistem keuangan digital, hingga keamanan siber. Jika Asia hanya menjadi pengguna, maka standar teknis, regulasi, dan arah inovasi akan ditentukan oleh pemilik infrastruktur.
World Economic Forum menekankan bahwa kedaulatan data dan infrastruktur digital menjadi fondasi daya saing ekonomi masa depan. Ketimpangan kepemilikan teknologi berisiko memperlebar jurang nilai tambah global dalam jangka panjang.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Asia mampu menggunakan AI. Asia sudah membuktikannya. Pertanyaannya adalah: apakah Asia siap memiliki fondasinya?
Apa yang Bisa Dilakukan?
Strategi jangka panjang tidak bisa reaktif. Investasi sovereign cloud nasional, pembangunan pusat data regional, insentif fiskal untuk industri semikonduktor, serta pendanaan riset universitas menjadi langkah awal. Di tingkat regional, UNESCAP mendorong kolaborasi lintas negara untuk memperkecil kesenjangan teknologi dan memperkuat integrasi ekonomi digital.
Asia memiliki pasar. Asia memiliki talenta. Yang belum merata adalah kepemilikan infrastruktur strategisnya.
Penutup
AI global tidak netral. Ia mengikuti arsitektur modal dan kekuasaan. Jika Asia terus puas sebagai pasar, maka nilai tambah tertinggi akan terus berada di luar. Tetapi jika Asia mulai membangun kapasitas komputasi, memperkuat ekosistem chip, dan menyatukan strategi regional, peta kekuasaan digital bisa berubah.
Kita sedang berada di fase penentuan. Apakah generasi kita hanya akan menjadi pengguna teknologi global, atau ikut merancang fondasinya?
Tulis pandanganmu. Bagikan artikel ini agar diskusi tentang AI tidak berhenti pada tren, tetapi bergerak pada kesadaran struktural. Dan follow akun sosial mediaku untuk analisis geopolitik teknologi yang berbasis data, tajam, dan relevan untuk masa depan Indonesia dan Asia.
Referensi
- Stanford University – AI Index Report 2024
https://aiindex.stanford.edu/report/ - Reuters – Laporan Pangsa Pasar Cloud Global (2023)
https://www.reuters.com/technology/ - Bloomberg – Lonjakan Nilai Pasar NVIDIA akibat Boom AI (2023)
https://www.bloomberg.com/news/articles/2023-05-30/nvidia-market-value-surges-on-ai-boom - World Bank – Digital Development Overview
https://www.worldbank.org/en/topic/digitaldevelopment - Google, Temasek, & Bain & Company – e-Conomy SEA 2023 Report
https://economysea.withgoogle.com/ - World Economic Forum – Laporan Ekonomi Digital dan Kedaulatan Data
https://www.weforum.org/reports/ - UNESCAP – Digital Economy Asia-Pacific
https://www.unescap.org/kp/digital-economy



