Pemanfaatan kecerdasan buatan kini merambah dunia paleontologi. Para ilmuwan mengembangkan aplikasi berbasis artificial intelligence (AI) bernama Dinotracker untuk membantu mengidentifikasi jejak kaki dinosaurus yang selama ini sulit ditelusuri asal-usulnya.
Teknologi ini dinilai mampu mengubah pendekatan penelitian fosil jejak, karena analisis tidak lagi sepenuhnya bergantung pada interpretasi visual manusia, melainkan pada pemrosesan data berbasis algoritma.
AI Dinotracker dan Terobosan Paleontologi Modern
Cara Kerja AI Dinotracker
AI Dinotracker dikembangkan oleh tim peneliti dari University of Edinburgh bekerja sama dengan Helmholtz-Zentrum di Jerman. Aplikasi ini menggunakan metode unsupervised machine learning untuk mempelajari variasi bentuk jejak kaki dinosaurus tanpa klasifikasi awal buatan manusia (University of Edinburgh, 2026).
Sistem tersebut menganalisis ribuan citra jejak fosil dan mengekstraksi ciri morfologi utama, seperti panjang dan sudut jari, bentuk tumit, serta luas bidang pijakan. Dari data itu, AI mengelompokkan jejak berdasarkan kemiripan pola.
Identifikasi Lebih Akurat dan Objektif
Pendekatan berbasis AI memungkinkan identifikasi jejak dinosaurus dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi, termasuk pada fosil yang kondisinya sudah tidak utuh. Metode ini membantu ilmuwan meninjau ulang temuan lama yang sebelumnya sulit diklasifikasikan.
Selain mempercepat proses analisis, penggunaan AI juga mengurangi potensi bias subjektif yang kerap muncul dalam metode identifikasi manual.
AI Dinotracker Ungkap Petunjuk Evolusi Burung
Jejak yang Menyerupai Kaki Burung Modern
Hasil analisis Dinotracker menunjukkan bahwa sejumlah jejak dinosaurus memiliki kemiripan mencolok dengan anatomi kaki burung modern. Pola jari dan sudut pijakan tertentu mengindikasikan adanya karakteristik avian pada dinosaurus theropoda jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya (The Guardian, 2026).
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa burung merupakan keturunan langsung dinosaurus, sekaligus membuka peluang penyesuaian kembali garis waktu evolusi kelompok tersebut.
Dukungan Bukti Ilmiah Berbasis Data
Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah dan dirangkum dalam basis data PubMed menunjukkan bahwa algoritma AI mampu mengenali variasi jejak secara konsisten. Pendekatan kuantitatif ini memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat dalam studi evolusi dibandingkan observasi visual semata (PubMed, 2026).
Kolaborasi Global dan Masa Depan Riset Jejak Dinosaurus
Platform Terbuka untuk Peneliti Dunia
Dinotracker dikembangkan sebagai aplikasi terbuka yang dapat digunakan oleh peneliti dari berbagai negara. Dengan sistem ini, data jejak dinosaurus dari berbagai situs fosil dunia dapat dianalisis secara terpadu, sehingga memperkaya basis data paleontologi global (Phys.org, 2026).
Tantangan dan Pengembangan ke Depan
Meski menawarkan banyak keunggulan, pengembangan Dinotracker masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan data fosil berkualitas tinggi. Para peneliti menekankan pentingnya digitalisasi fosil dan pemindaian tiga dimensi agar akurasi sistem terus meningkat.
Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat membantu eksplorasi lapangan dan mempercepat penemuan jejak dinosaurus baru di wilayah yang sulit dijangkau.
Hadirnya AI Dinotracker menandai era baru penelitian paleontologi yang semakin mengandalkan teknologi digital. Dengan pendekatan berbasis data, misteri jejak kaki dinosaurus yang selama ini membingungkan perlahan mulai terungkap.
Ikuti terus perkembangan sains dan teknologi terkini dengan membaca berita dan laporan mendalam lainnya seputar inovasi global hanya di Garap Media.
Referensi
