Apakah Benar Multitasking Merusak Otak?
Di era digital yang serba cepat ini, multitasking seakan menjadi kemampuan wajib. Kita terbiasa membalas pesan sambil mengikuti rapat online, atau mengerjakan laporan sembari mendengarkan podcast. Banyak orang merasa bangga bisa melakukan banyak hal sekaligus. Tapi, apakah benar multitasking membuat kita lebih produktif? Atau justru multitasking merusak otak secara perlahan?
Artikel ini akan mengupas dampak multitasking terhadap fungsi otak berdasarkan riset ilmiah, serta bagaimana kebiasaan ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir, fokus, dan kesehatan mental.
Apa Itu Multitasking?
Multitasking adalah kemampuan untuk melakukan dua atau lebih aktivitas dalam waktu bersamaan. Contohnya termasuk:
- Menjawab email sambil berbicara lewat telepon
- Menyusun presentasi sembari membuka notifikasi media sosial
- Mengerjakan tugas sambil menonton video YouTube
Namun secara neurologis, otak manusia sebenarnya tidak benar-benar “multitasking”. Yang terjadi adalah task-switching, yakni berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lainnya.
Bukti Ilmiah Multitasking Merusak Fungsi Otak
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa multitasking tidak hanya menurunkan efisiensi kerja, tetapi juga dapat mengubah struktur dan fungsi otak.
Penurunan Fokus dan Memori Jangka Pendek
Menurut studi dari Stanford University, orang yang sering multitasking justru memiliki kemampuan fokus dan memori kerja (working memory) yang lebih buruk dibanding mereka yang mengerjakan satu tugas dalam satu waktu.
“Media multitaskers pay a mental price: they are more easily distracted, less able to concentrate, and less able to recall information,” tulis Clifford Nass, profesor komunikasi di Stanford (Stanford News, 2009).
Efek pada Struktur Otak
Penelitian dari University of Sussex (2014) menemukan bahwa orang yang terbiasa melakukan multitasking media menunjukkan penurunan densitas materi abu-abu di korteks anterior cingulate, bagian otak yang berperan dalam kontrol emosional dan pengambilan keputusan.
Penurunan materi abu-abu bisa menjadi tanda penurunan fungsi kognitif secara jangka panjang jika kebiasaan multitasking terus berlanjut.
Multitasking Menurunkan Produktivitas
Alih-alih membuat kita lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, multitasking malah bisa membuat proses kerja lebih lambat dan penuh kesalahan.
Menurut American Psychological Association (APA), berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya bisa memangkas produktivitas hingga 40%. Ini karena otak memerlukan waktu untuk kembali fokus setiap kali terjadi perpindahan.
Kesalahan Meningkat
Saat multitasking, perhatian terbagi sehingga detail kecil sering terlewat. Ini bisa berdampak buruk terutama dalam pekerjaan yang menuntut ketelitian seperti akuntansi, pengkodean, atau penulisan akademis.
Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Mental
Multitasking juga berkontribusi pada peningkatan stres dan kelelahan mental. Karena otak dipaksa bekerja ekstra keras, beban mental meningkat tanpa disadari.
Gejala umum akibat multitasking kronis:
- Kecemasan
- Susah tidur
- Sakit kepala
- Kecepatan berpikir menurun
Semua ini bisa memicu burnout, terutama pada pekerja kantor atau pelajar yang setiap harinya terpapar banyak informasi secara bersamaan.
Bagaimana Menghindari Efek Negatif Multitasking
Berikut beberapa langkah praktis agar tidak terjebak dalam jebakan multitasking:
- Fokus pada satu tugas setiap kali bekerja, gunakan teknik Pomodoro untuk mengatur waktu fokus.
- Matikan notifikasi saat mengerjakan tugas berat.
- Jadwalkan waktu cek media sosial agar tidak terus-menerus terganggu.
- Latih mindfulness, seperti meditasi, untuk melatih fokus jangka panjang.
Multitasking memang terlihat hebat, namun efek jangka panjangnya terhadap otak dan produktivitas tidak bisa diabaikan. Alih-alih membuat pekerjaan lebih cepat selesai, multitasking justru bisa menurunkan kualitas kerja dan mengganggu kesehatan mental.
Jika kamu ingin meningkatkan performa kerja dan menjaga kesehatan otak, pertimbangkan untuk mulai fokus pada satu tugas dalam satu waktu.
Yuk, temukan lebih banyak informasi menarik dan mendalam hanya di Garap Media!
Referensi
- Stanford News.
- American Psychological Association.
- Loh, K.K., Kanai, R. (2014). “Higher Media Multitasking Is Associated with Smaller Gray-Matter Density in the Anterior Cingulate Cortex.” PLOS ONE.
- National Institutes of Health.
