Algoritma Membuat Selera – Tanpa disadari, selera kita terhadap musik, film, bahkan opini politik kini banyak dibentuk oleh apa yang disajikan di layar gawai. Di media sosial, sistem rekomendasi otomatis tampak seperti teman yang tahu apa yang kita sukai. Namun di balik kenyamanan itu, muncul pertanyaan besar: apakah kita masih punya selera sendiri, atau semuanya sudah ditentukan oleh algoritma?
Fenomena ini disebut dengan istilah “algoritma membuat selera” sebuah kondisi di mana sistem kecerdasan buatan dalam platform digital membentuk preferensi manusia melalui pola interaksi yang berulang. Saat kita hanya melihat konten yang mirip dengan apa yang pernah kita sukai, maka ruang eksplorasi terhadap hal-hal baru makin sempit. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar memiliki selera yang seragam, dibentuk oleh mesin, bukan pengalaman pribadi.
1. Apa Itu “Algoritma Membuat Selera”?
Menurut MyCarrier (2022), algoritma media sosial dirancang untuk memahami pola perilaku pengguna. Ia mencatat apa yang kita tonton, sukai, bagikan, dan cari. Dari sana, sistem menyesuaikan konten agar sesuai dengan “citra diri digital” kita.
Masalahnya, ketika algoritma terlalu personal, kita justru kehilangan keberagaman. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram membuat pengguna terjebak dalam gelembung rekomendasi (filter bubble), di mana konten yang muncul di linimasa selalu serupa. Akibatnya, proses alami membangun selera melalui rasa penasaran dan eksplorasi berangsur hilang.
Dalam laporan ValidNews (2025), fenomena ini disebut “penyempitan perspektif pengguna”, di mana individu hanya terekspos pada hal-hal yang mengonfirmasi apa yang sudah mereka sukai atau yakini sebelumnya. Artinya, algoritma tidak hanya membentuk preferensi hiburan, tapi juga cara berpikir.
2. Bagaimana Algoritma Mempengaruhi Selera?
2.1 Personalisasi yang Terlalu Dalam
Personalisasi seharusnya memudahkan pengguna menemukan konten relevan. Namun kini, algoritma justru mengurung pengguna dalam ruang minat yang sangat terbatas.
Menurut Poltekbang Palembang (2025), algoritma TikTok misalnya, merekam setiap gerakan kecil seperti durasi menonton, komentar, hingga kecepatan menggulir layar. Data itu digunakan untuk menyajikan video yang semakin sesuai dengan minat, agar pengguna betah berlama-lama.
Masalahnya, semakin cocok konten itu, semakin sempit pula dunia kita. Kita merasa nyaman, tapi juga kehilangan kejutan yang sering kali melahirkan rasa ingin tahu dan kreativitas.
2.2 Lingkaran Umpan Balik Algoritma Membuat Selera
Proses ini menciptakan feedback loop: kita menonton satu jenis konten, lalu algoritma memberikan konten serupa, dan seterusnya. Akhirnya, kita jarang menjumpai hal baru.
Seperti ditulis oleh Cakaplah (2025), generasi muda kini hidup dalam identitas digital yang dikurasi oleh algoritma. Selera musik, gaya berpakaian, bahkan opini politik terbentuk dari konten yang “difavoritkan” mesin, bukan refleksi diri.
Artinya, algoritma bukan hanya menampilkan konten, tapi juga mengarahkan perilaku. Ini berbahaya ketika selera menjadi bentuk dari konfirmasi sosial, bukan ekspresi pribadi.
2.3 Zona Nyaman dan Hilangnya Eksplorasi
Saat kita terus diberi konten yang sesuai minat, kita berhenti mencari yang berbeda. Algoritma mendorong kita untuk merasa “nyaman” dengan hal yang familiar, sehingga rasa ingin tahu semakin tumpul.
Padahal, eksplorasi terhadap sesuatu yang asing justru adalah kunci membangun karakter selera yang unik. Tanpa keberanian mencoba yang berbeda, kita akan terus menjadi penonton pasif dari pola yang sudah ditentukan sistem.
3. Dampak Sosial dari “Algoritma Membuat Selera”
3.1 Homogenisasi Algoritma Membuat Selera
Jika semua orang menonton video yang sama, mendengarkan lagu yang sama, dan berpakaian dengan tren yang sama, keunikan individu perlahan memudar.
ValidNews (2025) mencatat, pola ini menciptakan masyarakat homogen yang berpikir dan bereaksi dengan cara serupa. Selera personal menjadi bentuk konformitas kita menganggap apa yang populer sebagai yang terbaik, bukan karena memang menyukainya.
3.2 Hilangnya Proses Penemuan
Selera tidak terbentuk dalam semalam. Ia hasil dari proses panjang mencoba hal baru, gagal, lalu menemukan apa yang benar-benar cocok. Namun algoritma memotong proses ini dengan memberikan “yang pasti disukai”. Akibatnya, manusia tidak lagi berperan sebagai subjek pencari, tetapi objek yang diarahkan.
3.3 Konsumerisme Tanpa Kesadaran
Kita tidak lagi memilih apa yang dikonsumsi; kita hanya mengikuti alur yang diberikan sistem. Ini membuat pengguna menjadi konsumen pasif. Dalam jangka panjang, pola ini juga menguntungkan perusahaan teknologi karena waktu tonton dan klik meningkat sementara pengguna kehilangan otonomi terhadap pilihannya.
4. Cara Merebut Kembali Selera Pribadi
4.1 Sadari Polanya dari Algoritma Membuat Selera
Langkah pertama adalah menyadari bahwa algoritma bekerja untuk mempertahankan perhatian kita, bukan untuk membebaskan selera. Setelah sadar, kita bisa mengambil keputusan lebih bijak: berhenti sejenak sebelum mengklik konten yang direkomendasikan, dan bertanya, “apakah saya benar-benar tertarik, atau hanya karena ini muncul di feed?”
4.2 Eksplorasi di Luar Algoritma
Luangkan waktu untuk mencari hal-hal yang tidak muncul di linimasa. Misalnya, coba musik dari negara lain, baca media independen, atau tonton film dari genre yang belum pernah dicoba. Dengan eksplorasi semacam ini, Anda melatih kembali naluri ingin tahu dan memperluas cakrawala.
Baca juga: Kenapa Gen Z Semakin Susah Membeli Rumah Di Era Sekarang?
4.3 Kurasi Sendiri, Bukan Dikurasi
Gunakan fitur “tidak tertarik”, “laporkan konten”, atau bahkan “logout” sesekali agar algoritma kehilangan jejak untuk sementara. Dengan begitu, Anda bisa kembali menemukan konten secara acak dan alami.
4.4 Bangun Refleksi Diri
Tulis atau pikirkan hal-hal yang benar-benar Anda sukai tanpa pengaruh media sosial. Misalnya: mengapa Anda menyukai genre musik tertentu, atau apa yang membuat sebuah film berkesan. Dengan refleksi ini, Anda memperkuat kembali dasar selera pribadi yang sejati.
Penutup
Algoritma membuat selera bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, karena bisa membantu menemukan hal-hal relevan. Namun ketika sistem ini menjadi satu-satunya sumber inspirasi, kita kehilangan ruang untuk berimajinasi. Kesadaran digital menjadi kunci agar kita tidak hanyut dalam arus yang ditentukan mesin.
Jangan lewatkan artikel-artikel lain di GarapMedia yang membahas isu budaya digital dan psikologi sosial dengan perspektif segar dan mendalam.
Referensi
- Generasi FYP: Identitas Digital yang Dikurasi Algoritma.
- Algoritma Media Sosial.
Mengungkap Rahasia Algoritma TikTok: Mengapa Begitu Candu dan Sulit Dilepaskan. - Algoritma Medsos Mempersempit Perspektif Pengguna.
- 5 Fakta Algoritma Media Sosial yang Mempengaruhi Perasaanmu.
