Last Updated: 19 February 2026, 12:05

Bagikan:

AI Global Tidak Netral
Table of Contents

AI Global Tidak Netral– AI sering diposisikan sebagai teknologi netral. Siapa pun bisa menggunakannya, siapa pun bisa mengaksesnya, dan siapa pun bisa membangunnya. Narasi itu terdengar demokratis dan progresif. Namun menurut data global, AI modern tidak berdiri di ruang kosong. Ia tumbuh di atas infrastruktur komputasi raksasa, chip bernilai miliaran dolar, dan investasi negara berskala besar. Semua itu tidak tersebar merata. Ia terkonsentrasi. Ia mengikuti peta kekuasaan ekonomi global. Ini bukan kebetulan tapi ini desain sistem.

Mengapa AI Global Tidak Netral dalam Struktur Infrastruktur?

Laporan AI Index Report 2024 dari Stanford University menunjukkan bahwa sebagian besar model AI frontier dikembangkan oleh perusahaan dan institusi berbasis di Amerika Serikat, dengan Tiongkok sebagai pesaing utama. Kontribusi negara lain dalam pengembangan model berskala besar jauh lebih kecil. Menurut data global dalam laporan tersebut, dominasi ini bukan hanya karena talenta, tetapi karena akses terhadap komputasi dan pendanaan riset.

Di sisi infrastruktur, Reuters (2023) melaporkan bahwa tiga raksasa cloud yaitu Amazon Web Services, Microsoft, dan Google telah menguasai lebih dari 65% pangsa pasar cloud global. Cloud adalah fondasi AI modern. Tanpa kapasitas komputasi besar, pelatihan model skala besar hampir mustahil dilakukan.

Bloomberg (2023) juga mencatat lonjakan permintaan GPU produksi NVIDIA setelah ledakan AI generatif. Kapitalisasi pasar NVIDIA sempat melampaui USD 1 triliun karena permintaan chip AI melonjak tajam.

Estimasi industri menyebutkan pelatihan satu model bahasa besar dapat membutuhkan ribuan GPU dan biaya puluhan hingga ratusan juta dolar AS. Artinya, hanya perusahaan dengan modal dan infrastruktur besar yang mampu bersaing di level tertinggi. Laporan dari World Bank tentang transformasi digital menegaskan bahwa kesenjangan digital kini tidak lagi sekadar soal akses internet, melainkan kapasitas komputasi dan kepemilikan pusat data. Analisis struktur mengungkap bahwa negara yang menguasai infrastruktur, menguasai AI.

Dampak AI Global Tidak Netral bagi Asia dan Indonesia

Asia merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat. Namun kepemilikan infrastrukturnya belum sebanding dengan konsumsi teknologinya. Laporan e-Conomy SEA 2023 oleh Google bersama Temasek dan Bain & Company memproyeksikan ekonomi digital Asia Tenggara akan mencapai USD 330 miliar pada 2025, dengan Indonesia sebagai kontributor terbesar. Namun pertanyaan krusialnya adalah: siapa yang menikmati margin komputasi dan nilai tambah tertinggi?

Sejumlah laporan media nasional menunjukkan sebagian besar perusahaan teknologi Indonesia masih menggunakan penyedia cloud global dibandingkan layanan lokal. Artinya, ketika startup Indonesia berkembang, biaya komputasi dan margin infrastruktur banyak mengalir keluar negeri. Tantangan akses GPU dan mahalnya pelatihan model menjadi hambatan nyata bagi pengembangan AI lokal. Ketergantungan digital adalah bentuk kolonialisme baru. Kita menghasilkan data dan menjadi pasar pengguna, tetapi pusat nilai tambah tetap berada di luar. Negara tanpa strategi AI hanya akan jadi pasar.

Mengapa AI Global Tidak Netral Itu Penting bagi Masa Depan Ekonomi?

AI tidak hanya memengaruhi sektor teknologi. Ia menentukan produktivitas industri, sistem keuangan, pertahanan, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan. Jika arsitektur AI global terkunci pada segelintir negara, maka arah inovasi dan standar teknologi akan ditentukan oleh kepentingan mereka. Menurut data global, konsentrasi teknologi cenderung memperlebar kesenjangan ekonomi jangka panjang karena nilai tambah tertinggi berada pada pemilik infrastruktur, bukan pengguna akhir. Ini bukan isu emosional atau politis. Ini isu struktural dan ekonomi. 

Strategi Agar Tidak Selamanya Menjadi Pengguna

Langkah konkret harus dimulai dari kebijakan yang realistis. Di level nasional, investasi pada sovereign cloud, insentif pajak untuk pembangunan data center, serta pendanaan R&D berbasis universitas menjadi fondasi awal. World Economic Forum menekankan pentingnya kedaulatan data dan infrastruktur sebagai fondasi daya saing ekonomi digital. Di level regional, UNESCAP mendorong kolaborasi lintas negara Asia untuk memperkecil kesenjangan teknologi melalui integrasi kebijakan dan investasi bersama. Roadmap jangka menengah perlu mencakup pengembangan talenta AI, penguatan ekosistem desain chip, dan model startup berbasis nilai tambah, bukan sekadar menjadi distributor teknologi global.

Penutup

AI global tidak netral. Ia mengikuti arsitektur modal dan kekuasaan. Pertanyaannya sederhana namun fundamental: apakah Asia, termasuk Indonesia, hanya akan menjadi pasar? Atau mulai membangun kapasitas komputasinya sendiri? Menurut data global, masa depan AI tidak ditentukan oleh siapa yang paling sering menggunakan teknologi, tetapi siapa yang menguasai infrastrukturnya. Jika kamu peduli masa depan digital Indonesia, mari berdiskusi dan bagikan perspektifmu. Share artikel ini agar lebih banyak orang memahami struktur di balik AI global. Dan follow akun sosial mediaku untuk analisis geopolitik teknologi yang tajam, berbasis data, dan relevan bagi generasi kita. Literasi AI bukan sekadar tren, melainkan fondasi masa depan ekonomi.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /