AI Di Dunia Pendidikan – Di tengah percepatan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI) semakin memegang peranan penting di ranah pendidikan. Di Indonesia, pemerintah telah mengumumkan rencana memasukkan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah dasar, serta memperkuat penggunaan AI yang etis di sekolah menengah maupun perguruan tinggi.
Namun, di balik potensi tersebut, muncul pula sejumlah kekhawatiran serius: etika akademik, kesiapan pendidikan, kesenjangan akses, dan risiko bahwa AI dapat menjadi jalan pintas yang merusak integritas belajar. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: sejauh mana AI dapat menjadi “teman belajar,” dan kapan ia berpotensi berubah menjadi ancaman?
Manfaat AI di Dunia Pendidikan
1. Personalisasi Pembelajaran
AI memungkinkan materi dan metode belajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa, baik dari segi kecepatan, gaya belajar, maupun area yang memerlukan perbaikan. Hal ini membantu siswa yang biasanya tertinggal di kelas besar.
2. Efisiensi dan Dukungan Pendidik
AI dapat mendukung pendidik dalam administrasi, pembuatan tugas, evaluasi otomatis, dan pemberian umpan balik awal. Dengan demikian, pendidik memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi siswa secara langsung. Pemerintah Indonesia menekankan bahwa penggunaan AI dan ICT harus efisien dan meningkatkan kapasitas diri (ANTARA News, 2025).
3. Memperkuat Literasi Digital dan Teknologi
Rencana pemerintah untuk memperkenalkan mata pelajaran AI dan coding pada siswa sekolah dasar kelas tinggi (kelas 4–6) sebagai subjek pilihan menunjukkan upaya antisipatif dalam menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja dan perkembangan teknologi (CNN Indonesia, 2024).
4. Pengembangan Inovasi dan Kreativitas
Dengan akses terhadap alat berbasis AI seperti platform pembelajaran cerdas, asisten analisis data, atau penulisan kreatif, siswa dan siswa dapat mengeksplorasi ide-ide baru, mengolah informasi, serta menghasilkan konten yang sebelumnya sulit dijangkau. Wakil Presiden Gibran juga mewakili agar pendidik dan sekolah segera beradaptasi terhadap AI agar tidak tertinggal (ANTARA News, 2025).
Tantangan AI di Dunia Pendidikan
1. Etika dan Integritas Akademik
Penggunaan AI berpotensi menimbulkan plagiarisme atau pemanfaatan materi yang dihasilkan AI tanpa pemahaman mendalam. Sebuah studi di universitas Indonesia menemukan bahwa banyak mahasiswa menggunakan alat seperti ChatGPT dan Grammarly, tetapi tanpa adanya panduan formal mengenai batas penggunaannya, terjadi kebingungan terkait aspek etis (Everant, 2025).
2. Kesiapan Pendidik dan Infrastruktur
Banyak sekolah di daerah terpencil belum memiliki akses internet stabil, perangkat memadai, maupun pelatihan bagi pendidik. Hal ini berisiko menciptakan ketimpangan baru. Studi kritis juga menemukan bahwa disparitas infrastruktur dan literasi digital merupakan hambatan besar dalam pengintegrasian AI ke pendidikan di Indonesia (At-Tarbawi, 2025).
3. Privasi Data dan Keamanan
Penggunaan AI memerlukan pengumpulan data siswa, termasuk kebiasaan belajar dan kinerja akademik. Jika tidak diatur dengan baik, data tersebut dapat disalahgunakan atau mengalami kebocoran. Kekhawatiran juga muncul terkait bias algoritma dan perlindungan data pribadi.
4. Ketergantungan dan Hilangnya Pemahaman Mendalam
Terlalu bergantung pada AI dalam menyelesaikan tugas berisiko yang menurunkan kemampuan kritis, riset, kreativitas, serta pemahaman mendalam. AI dapat menjadi “jalan pintas” yang membuat proses belajar menjadi dangkal.
baca juga: Cara Kerja AI: Memahami Dasar-Dasar dan Teknologi di Baliknya
Rekomendasi Penggunaan AI di Dunia Pendidikan
1. Kebijakan dan Pedoman Etis yang Jelas
Setiap sekolah dan kampus perlu memiliki aturan mengenai batas pemanfaatan AI, plagiarisme, sitasi, dan sanksi yang berlaku.
2. Pelatihan bagi Pendidik dan Dosen
Pendidik perlu dibekali literasi AI: memahami potensi, risiko, serta strategi mendampingi siswa. Selain itu, pendidik juga dapat merancang tugas yang menuntut pemikiran kritis agar tidak sekadar “mengerjakan AI.”
3. Pengembangan Infrastruktur dan Akses Merata
Perlu dukungan internet stabil, perangkat keras dan lunak, serta fasilitas bagi sekolah di daerah terpencil melalui kolaborasi pemerintah dan swasta.
4. Integrasi dalam Kurikulum
AI tidak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran pilihan, tetapi juga diintegrasikan dalam pembelajaran lintas disiplin, termasuk literasi digital, etika AI, berpikir kritis, dan kreativitas.
5. Sistem Penilaian yang Adaptif
Evaluasi harus menekankan proses berpikir, analisis, dan kolaborasi misalnya melalui proyek, presentasi, penelitian lokal, dan diskusi kelas alih-alih sekadar hasil akhir.
Penutup
AI memiliki potensi besar untuk menjadi mitra pembelajaran: meningkatkan efisiensi, mempersonalisasi proses belajar, mendorong kreativitas, serta mempersiapkan generasi menghadapi era digital. Namun, tanpa regulasi, infrastruktur yang memadai, dan pedoman etis, AI di Dunia Pendidikan juga dapat mengancam integritas akademik serta memperlebar hambatan. Pilihan kebijakan dan praktik pendidikan hari ini akan menentukan apakah AI akan memperkuat pendidikan atau justru menyertakannya.
Jangan lewatkan pembahasan menarik lainnya tentang Teknologi dan Inovasi di Garap Media.
Referensi
AI dan coding diajarkan sejak SD, pendidik minta bersantai siswa.
Pengaruh AI terhadap etika akademik mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia.
Kecerdasan buatan dalam pendidikan: Peluang dan tantangan integrasi AI di kelas-kelas Indonesia.
Wapres Gibran mengadvokasi adopsi AI di kalangan pendidik Indonesia.
AI dalam pendidikan harus etis, kata Indonesia di pertemuan APEC .
