Garap Media – Ingin resign bukan lagi sekadar keputusan impulsif. Ini sudah jadi fenomena global, banyak orang bertahan di pekerjaan, tapi mentalnya sudah “keluar”.
Menurut survei Gallup 2023, sekitar 59% karyawan masuk kategori “quiet quitting”, mereka tetap bekerja, tapi kehilangan keterlibatan emosional. Ini tanda awal sebelum benar-benar resign.
Masalahnya, keinginan resign jarang muncul tiba-tiba. Ada pola yang berulang. Dan seringkali, perusahaan tidak menyadarinya sampai terlambat.
1. Ingin Resign Karena Tidak Ada Arah Karier
Penyebab pertama yang paling besar: tidak ada masa depan yang jelas. Karyawan butuh tahu:
- Mereka berkembang ke mana
- Apa peluang naik
- Apa tujuan jangka panjang
Jika tidak ada kejelasan, kerja terasa seperti “jalan di tempat”. LinkedIn Workforce Report menunjukkan bahwa 94% karyawan akan bertahan lebih lama jika perusahaan berinvestasi pada pengembangan karier mereka. Tanpa itu, motivasi perlahan hilang. Dan saat motivasi hilang, keinginan resign mulai muncul.
2. Lingkungan Kerja yang Melelahkan Mental
Banyak orang tidak resign dari pekerjaan, mereka resign dari lingkungan. BBC Worklife menyoroti bahwa toxic workplace menjadi salah satu alasan utama orang meninggalkan pekerjaan, bahkan ketika gajinya tinggi. Ciri lingkungan yang membuat orang ingin resign:
- Komunikasi buruk
- Atasan tidak support
- Budaya saling menyalahkan
- Tekanan tanpa apresiasi
Menurut laporan Deloitte, lebih dari 50% pekerja meninggalkan pekerjaan karena faktor kesehatan mental. Ini bukan soal kuat atau tidak. Tapi soal lingkungan yang memang tidak sehat.
3. Usaha Tidak Seimbang dengan Penghargaan
Ini yang paling sering terjadi. Karyawan merasa:
- Kerja keras tidak dihargai
- Gaji tidak sesuai
- Tidak ada apresiasi
Workhuman melaporkan bahwa 69% karyawan akan lebih loyal jika merasa dihargai secara konsisten. Sebaliknya, tanpa penghargaan:
- Energi cepat habis
- Semangat turun
- Loyalitas hilang
Dan pada titik tertentu, orang tidak lagi marah. Mereka hanya diam, lalu pergi.
Realita yang Jarang Diakui
Ingin resign bukan tanda kamu lemah. Kadang itu tanda kamu sudah terlalu lama bertahan di tempat yang salah. Masalahnya, banyak orang:
- Menunda keputusan
- Takut keluar dari zona nyaman
- Takut memulai ulang
Padahal, semakin lama bertahan di situasi yang tidak sehat, semakin besar dampaknya ke diri sendiri.
Tanda Kamu Sudah Ingin Resign
Kalau kamu mulai:
- Kehilangan motivasi kerja
- Tidak peduli dengan hasil
- Sering merasa lelah tanpa alasan jelas
- Menghitung hari untuk libur
Itu bukan sekadar capek. Itu sinyal, dan sinyal ini tidak boleh diabaikan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak semua harus langsung resign. Tapi kamu harus sadar posisimu. Langkah awal:
- Evaluasi penyebab utama (lingkungan, gaji, atau arah karier)
- Komunikasikan ke atasan jika memungkinkan
- Mulai siapkan opsi lain (skill, peluang, jaringan)
- Jangan ambil keputusan saat emosi tinggi
- Pilih bertahan atau pergi dengan sadar, bukan terpaksa
Karena resign bukan solusi instan. Tapi bisa jadi keputusan terbaik—jika dipikirkan dengan matang.
Penutup
Dunia kerja berubah. Orang tidak lagi bertahan hanya karena “butuh kerja”. Mereka butuh:
- Lingkungan sehat
- Penghargaan
- Arah yang jelas
Kalau itu tidak ada, keinginan resign akan selalu muncul—cepat atau lambat. Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan “haruskah resign?” Tapi: “Apakah tempat ini masih layak untuk dipertahankan?”
Sumber Referensi
- Gallup State of the Global Workplace 2023
https://www.gallup.com/workplace/349484/state-of-the-global-workplace.aspx - LinkedIn Workforce Report
https://www.linkedin.com/business/talent/blog - Deloitte Workplace Mental Health Survey
https://www2.deloitte.com - Workhuman Employee Recognition Report
https://www.workhuman.com/resources - BBC Worklife – Why People Quit Jobs
https://www.bbc.com/worklife
