Mencuci beras hingga airnya benar-benar bening sudah menjadi kebiasaan banyak orang di Indonesia. Tak sedikit yang meyakini bahwa air yang jernih menandakan beras telah bersih dari kuman, bakteri, hingga pestisida, sehingga aman dikonsumsi. Karena anggapan tersebut, beras sering dicuci minimal tiga kali atau bahkan lebih sampai airnya terlihat sempurna.
Padahal, fakta ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan ini tidak sepenuhnya tepat. Mencuci beras sampai airnya benar-benar bening justru dapat mengurangi kandungan nutrisi penting, sekaligus memengaruhi cita rasa serta tekstur nasi yang dihasilkan setelah dimasak.
1. Nutrisi Penting Larut dan Terbuang Percuma
Mencuci beras secara berlebihan dapat menyebabkan hilangnya berbagai nutrisi penting. Beras yang telah difortifikasi atau diperkaya nutrisi sangat rentan kehilangan zat besi, folat, thiamin (vitamin B1), dan niasin jika dicuci berulang kali. Thiamin atau vitamin B1 termasuk vitamin yang mudah larut dalam air. Jika beras terus dibilas hingga airnya bening, vitamin ini akan ikut terbuang. Padahal, thiamin berperan penting dalam metabolisme tubuh, membantu proses pencernaan, serta mengubah karbohidrat menjadi energi. Akibatnya, tubuh bisa kehilangan asupan vitamin yang mendukung fungsi metabolisme energi.
2. Lapisan Dedak dan Germ yang Kaya Manfaat Hilang
Proses penggilingan padi menjadi beras putih sebenarnya sudah menghilangkan sebagian besar lapisan dedak dan germ. Padahal, kedua lapisan tersebut kaya vitamin B kompleks dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan. Meski sebagian besar sudah hilang saat proses penggilingan, masih ada sisa nutrisi yang menempel pada permukaan beras. Jika mencuci beras dilakukan berlebihan, sisa nutrisi tersebut ikut terbuang. Karena itu, praktik mencuci sampai air bening justru meningkatkan risiko kehilangan kandungan gizi secara keseluruhan. Sebagai alternatif, beras organik yang melalui proses penggilingan minimal dapat membantu menjaga kandungan dedak dan germ tetap utuh.
3. Rasa dan Aroma Khas Beras Memudar
Pati alami yang masih tersisa pada butiran beras berperan dalam membentuk rasa gurih dan aroma khas nasi. Jika beras dicuci terlalu bersih, pati tersebut akan hilang bersama air cucian. Akibatnya, nasi yang dihasilkan cenderung lebih hambar dan kurang beraroma. Untuk menjaga cita rasa alami, cukup aduk beras secara perlahan saat mencuci dan hindari meremasnya terlalu keras. Umumnya, membuang air cucian pertama atau kedua sudah cukup tanpa harus menunggu hingga air benar-benar jernih.
4. Tekstur Nasi Tidak Sesuai Harapan
Air cucian beras yang tampak keruh sebenarnya mengandung pati yang membantu menciptakan tekstur nasi yang pulen. Jika mencuci beras sampai airnya bening, pati alami tersebut ikut terbuang. Tanpa pati yang cukup, tekstur nasi bisa menjadi kurang pas, tidak sepulen yang diharapkan, atau bahkan terlalu pera. Keseimbangan dalam mencuci beras menjadi kunci agar nasi matang dengan tekstur yang ideal, tidak terlalu lengket dan tidak terlalu kering.
5. Mitos Nasi Cepat Basi Tidak Terbukti
Banyak orang percaya bahwa jika beras tidak dicuci sampai bersih sempurna, nasi akan cepat basi. Namun, anggapan ini tidak didukung bukti ilmiah. Ketahanan nasi lebih dipengaruhi oleh cara penyimpanan, suhu ruangan, kelembaban, serta kebersihan wadah penyimpanan. Nasi yang disimpan dalam kondisi kurang higienis atau terlalu lama pada suhu ruang lebih mudah basi, terlepas dari seberapa bening air saat mencuci beras. Karena itu, fokus utama seharusnya pada penyimpanan yang tepat, bukan pada kejernihan air cucian.
6. Pemborosan Air dan Dampak Lingkungan
Mencuci beras hingga tiga atau empat kali dalam setiap proses memasak berarti membuang banyak air setiap minggu. Ini merupakan pemborosan sumber daya yang seharusnya bisa dihemat. Selain itu, air cucian beras yang keruh sebenarnya masih mengandung nutrisi yang dapat dimanfaatkan, misalnya untuk menyiram tanaman. Bahkan di Jepang, pemerintah pernah mengimbau warganya untuk tidak mencuci beras secara berlebihan demi menjaga ekosistem air. Air cucian beras yang masuk ke saluran pembuangan dapat memicu pertumbuhan alga yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
7. Pencucian Berlebihan Tidak Membunuh Kuman
Anggapan bahwa mencuci beras sampai airnya bening dapat membunuh kuman dan bakteri adalah keliru. Air biasa tidak cukup untuk membunuh mikroorganisme yang mungkin ada pada beras. Kuman dan bakteri akan mati melalui proses pemasakan dengan suhu tinggi. Suhu di atas 70 derajat Celcius efektif membunuh sebagian besar mikroorganisme, dan proses mendidih saat menanak nasi akan menyempurnakan proses tersebut. Karena itu, keamanan nasi lebih ditentukan oleh kualitas beras dan proses memasaknya, bukan oleh seberapa sering beras dicuci.
Penutup
Mencuci beras memang tetap diperlukan untuk menghilangkan kotoran atau debu yang mungkin menempel. Namun, tidak perlu dilakukan berulang kali hingga airnya benar-benar bening. Cukup bilas satu hingga dua kali secara perlahan tanpa meremas butiran beras.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar kesehatan, kuliner, gaya hidup, pendidikan, teknologi, lingkungan, dan inspirasi harian hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Jangan Cuci Beras Sampai Airnya Bening, Ini 7 Alasan Penting yang Wajib Anda Tahu. Retrieved from https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6278730/jangan-cuci-beras-sampai-airnya-bening-ini-7-alasan-penting-yang-wajib-anda-tahu
