Garap Media – Lebaran identik dengan kebahagiaan: kumpul keluarga, makanan melimpah, dan suasana hangat. Tapi realitanya, tidak semua merasakan hal yang sama, terutama Gen Z.
Di balik foto-foto senyum dan momen kebersamaan yang viral di media sosial, ada tekanan yang jarang dibahas. Banyak Gen Z justru merasa cemas, lelah secara emosional, bahkan tidak nyaman saat Lebaran.
Fenomena ini bukan asumsi semata. Menurut laporan World Health Organization, generasi muda saat ini memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Momen sosial besar seperti Lebaran justru bisa memperbesar tekanan tersebut.
1. Tekanan Pertanyaan Klasik yang Tidak Pernah Berubah
“Kerja di mana?”, “Kapan nikah?”, “Gajinya berapa?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar biasa bagi generasi sebelumnya. Tapi bagi Gen Z, ini bisa terasa seperti interogasi. Tekanan untuk “sudah berhasil” di usia muda membuat banyak orang merasa tertinggal. Padahal, setiap orang punya timeline hidup yang berbeda.
2. Perbandingan Sosial yang Semakin Parah
Media sosial memperparah situasi. Saat Lebaran, timeline penuh dengan pencapaian orang lain, karier, pasangan, hingga gaya hidup. Gen Z yang sangat terhubung dengan platform digital seperti Instagram dan TikTok cenderung lebih mudah membandingkan diri. Akibatnya, rasa kurang dan tidak puas semakin meningkat.
3. Ekspektasi Keluarga yang Terlalu Tinggi
Lebaran sering jadi ajang “penilaian tidak resmi”. Penampilan, pekerjaan, bahkan pilihan hidup jadi bahan pembicaraan. Bagi Gen Z yang lebih terbuka dengan pilihan hidup modern, ekspektasi keluarga kadang terasa membatasi. Ini menciptakan konflik batin antara menjadi diri sendiri atau memenuhi harapan orang lain.
4. Kelelahan Sosial (Social Exhaustion)
Tidak semua orang menikmati keramaian. Bagi sebagian Gen Z, terlalu banyak interaksi sosial dalam waktu singkat bisa melelahkan. Fenomena ini dikenal sebagai social exhaustion. Menurut American Psychological Association, interaksi sosial berlebihan tanpa jeda dapat meningkatkan stres dan kelelahan mental.
5. Overthinking yang Semakin Intens
Lebaran memberi banyak “ruang kosong” untuk berpikir. Dan bagi Gen Z, ini sering berubah jadi overthinking. Mulai dari membandingkan diri, mengingat kegagalan, hingga mengkhawatirkan masa depan. Pikiran jadi tidak berhenti, bahkan saat seharusnya menikmati momen.
6. Tekanan Finansial yang Nyata
Tradisi Lebaran sering identik dengan pengeluaran besar: baju baru, THR, hingga biaya perjalanan. Bagi Gen Z yang masih merintis karier, ini bisa jadi beban. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil. Data dari International Monetary Fund menunjukkan bahwa tekanan ekonomi global berdampak signifikan pada generasi muda, terutama dalam hal kestabilan finansial.
7. Kehilangan Makna Lebaran Itu Sendiri
Di tengah semua tekanan, banyak Gen Z merasa Lebaran kehilangan makna aslinya. Bukan lagi soal refleksi dan kebersamaan, tapi lebih ke formalitas sosial. Akibatnya, momen yang seharusnya hangat justru terasa kosong.
Realita yang Jarang Dibicarakan
Perasaan tidak bahagia saat Lebaran bukan berarti tidak bersyukur. Ini adalah respon manusia terhadap tekanan sosial, ekspektasi, dan kondisi mental.
Gen Z tumbuh di era yang berbeda, lebih cepat, lebih terbuka, tapi juga lebih kompleks. Wajar jika cara mereka merasakan momen seperti Lebaran juga berbeda.
Penutup
Lebaran tidak harus selalu sempurna. Tidak harus selalu penuh tawa, atau sesuai ekspektasi orang lain. Yang penting adalah jujur pada diri sendiri. Jika merasa lelah, istirahat. Jika merasa tertekan, beri ruang.
Karena pada akhirnya, makna Lebaran bukan tentang terlihat bahagia, tapi tentang menemukan ketenangan, dengan cara yang paling sesuai untuk diri sendiri.
Sumber Referensi
- World Health Organization (WHO): https://www.who.int
- American Psychological Association (APA): https://www.apa.org
- International Monetary Fund (IMF): https://www.imf.org
- Pew Research Center: https://www.pewresearch.org
