Garap Media – Dunia startup sering memperlihatkan kisah pertumbuhan yang terlihat nyaris tanpa batas. Valuasi miliaran dolar, investor besar, ekspansi global, dan sorotan media dapat membuat sebuah perusahaan tampak sangat sulit jatuh. Namun, sejumlah startup besar justru menunjukkan bahwa modal besar tidak selalu berarti bisnis akan bertahan. WeWork pernah mencapai valuasi US$47 miliar sebelum mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2023. Dari Jawbone hingga FTX, ada pola penting yang dapat dipelajari pengusaha dari kegagalan perusahaan bernilai miliaran.
1. Valuasi Besar Bukan Berarti Bisnis Sehat
Pelajaran pertama adalah valuasi tidak sama dengan kekuatan fundamental perusahaan. WeWork pernah menjadi salah satu startup paling bernilai di dunia dengan valuasi US$47 miliar. Namun, model bisnisnya menghadapi tekanan karena perusahaan menanggung kewajiban sewa jangka panjang dan mengalami kerugian besar. Reuters mencatat WeWork akhirnya mengajukan perlindungan kebangkrutan pada November 2023. Kasus tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan valuasi perlu dibarengi kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat. Investor dan pengusaha perlu melihat angka bisnis, bukan hanya angka valuasi.
Jawbone memberikan contoh berbeda tetapi dengan pelajaran serupa. Perusahaan perangkat wearable itu pernah mencapai valuasi US$3,2 miliar pada 2014 setelah memperoleh pendanaan besar. Namun, produk fitness tracker-nya gagal mendapatkan posisi kuat di pasar dan perusahaan akhirnya masuk proses likuidasi pada 2017. Reuters mencatat Jawbone telah membakar lebih dari US$500 juta ekuitas dan mengumpulkan lebih dari US$400 juta utang. Artinya, modal besar dapat memperpanjang perjalanan bisnis tanpa otomatis memperbaiki produk. Pertumbuhan yang sehat tetap membutuhkan permintaan pasar dan unit economics yang masuk akal.
2. Jangan Tumbuh Lebih Cepat dari Kemampuan Bisnis
Pelajaran kedua adalah ekspansi yang terlalu agresif dapat berubah menjadi beban. WeWork memperluas jaringan ruang kerja dengan cepat ketika permintaan dan pendanaan sedang tinggi. Masalah muncul ketika kondisi pasar berubah dan biaya sewa jangka panjang menjadi tekanan besar terhadap keuangan perusahaan. Reuters menyebut WeWork menghadapi tumpukan utang dan kerugian ketika permintaan ruang kantor menurun. Pertumbuhan jumlah lokasi akhirnya tidak cukup untuk menutup struktur biaya yang berat. Startup perlu memastikan setiap ekspansi memiliki dasar permintaan dan kemampuan finansial yang jelas.
Quibi juga menunjukkan bahwa uang besar tidak otomatis membuat ekspansi berhasil. Platform video pendek tersebut menghimpun sekitar US$1,75 miliar sebelum akhirnya mengumumkan penutupan hanya beberapa bulan setelah diluncurkan. Quibi kesulitan mendapatkan pelanggan yang bersedia membayar untuk kontennya. Reuters melaporkan perusahaan menghentikan operasi sekitar enam bulan setelah peluncuran. Pelajarannya sederhana, pertumbuhan harus mengikuti kebutuhan konsumen. Produk yang belum menemukan kecocokan pasar akan sulit diselamatkan hanya dengan tambahan modal.
3. Produk Canggih Tetap Harus Dibutuhkan Pasar
Pelajaran ketiga adalah teknologi atau inovasi hebat tidak cukup jika konsumen tidak benar-benar membutuhkannya. Jawbone memiliki teknologi dan desain yang menarik dalam industri perangkat wearable. Namun, perusahaan kesulitan mendapatkan pangsa pasar yang kuat dibandingkan pesaing seperti Fitbit dan Samsung. Reuters mencatat Jawbone memiliki pangsa pasar di bawah lima persen dan akhirnya gagal mempertahankan bisnisnya. Produk yang terlihat inovatif tetap harus memiliki alasan kuat untuk dibeli. Inovasi tanpa product-market fit dapat membuat perusahaan menghabiskan modal tanpa menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan.
Quibi menghadapi persoalan yang hampir sama dari sisi berbeda. Perusahaan menawarkan konten video pendek premium untuk pengguna perangkat mobile dan didukung nama besar industri hiburan. Namun, konsumen ternyata tidak cukup tertarik untuk membayar layanan tersebut secara berkelanjutan. Bahkan pendanaan besar tidak mampu mengubah lemahnya respons pasar tersebut. Ini menjadi pengingat bahwa riset konsumen harus dilakukan sebelum ekspansi besar. Startup perlu menguji apakah pengguna benar-benar bersedia membayar, bukan hanya menyukai konsep produknya.
4. Tata Kelola Tidak Boleh Dikalahkan Kecepatan
Pelajaran keempat adalah tata kelola perusahaan menjadi semakin penting ketika startup tumbuh besar. FTX pernah mencapai valuasi US$32 miliar setelah memperoleh pendanaan besar dari sejumlah investor. Namun, pada November 2022 perusahaan mengajukan kebangkrutan setelah menghadapi krisis likuiditas dan penarikan dana besar-besaran. Reuters melaporkan pelanggan menarik sekitar US$6 miliar dalam waktu 72 jam ketika kepercayaan terhadap perusahaan runtuh. Kasus tersebut memperlihatkan betapa cepat kepercayaan dapat berubah menjadi krisis. Struktur pengawasan dan pengelolaan risiko karena itu tidak boleh dianggap sebagai urusan belakangan.
Theranos memberikan pelajaran yang bahkan lebih keras tentang pentingnya transparansi. Startup kesehatan tersebut pernah mencapai valuasi sekitar US$9 miliar sebelum klaim teknologinya menjadi sasaran penyelidikan. SEC kemudian menuduh perusahaan dan pendirinya melakukan penipuan besar terkait teknologi, bisnis, serta kinerja keuangan. Teknologi kesehatan juga membutuhkan validasi karena dampaknya dapat menyangkut keputusan medis dan keselamatan pasien. Reputasi besar tidak dapat menggantikan bukti yang dapat diverifikasi. Startup yang ingin tumbuh panjang membutuhkan budaya transparansi sejak tahap awal.
5. Investor Besar Bukan Pengganti Strategi Bisnis
Pelajaran terakhir adalah nama besar investor tidak dapat menggantikan kemampuan perusahaan menjalankan bisnis. WeWork mendapatkan dukungan investor besar seperti SoftBank, tetapi tetap menghadapi persoalan utang dan model biaya yang berat. FTX juga didukung investor besar dan pernah dihargai US$32 miliar sebelum mengalami keruntuhan. Dukungan modal memang dapat mempercepat pertumbuhan, tetapi tidak menghapus risiko operasional. Pengusaha tetap harus memastikan pendapatan, biaya, produk, dan tata kelola berjalan secara sehat.
Bagi startup Indonesia, lima kasus tersebut dapat menjadi pengingat bahwa mengejar valuasi bukan satu-satunya tujuan. Perusahaan perlu membangun produk yang benar-benar dibutuhkan, menjaga biaya, menguji pasar, dan memperkuat tata kelola. Modal seharusnya digunakan untuk memperbesar bisnis yang sudah memiliki dasar kuat. Ketika fundamental sehat, pendanaan dapat menjadi akselerator pertumbuhan. Sebaliknya, modal besar dapat memperbesar masalah jika model bisnis belum terbukti. Karena itu, keberlanjutan harus menjadi bagian dari strategi sejak awal.
Penutup
Kisah startup bernilai miliaran menunjukkan bahwa dunia bisnis tidak hanya tentang siapa yang mampu tumbuh paling cepat. WeWork, Jawbone, Quibi, FTX, dan Theranos memperlihatkan bentuk risiko yang berbeda. Ada masalah biaya, lemahnya permintaan, ekspansi berlebihan, tata kelola, hingga klaim teknologi yang tidak terbukti. Pelajaran tersebut relevan bagi startup Indonesia yang sedang mengejar pertumbuhan dan pendanaan besar. Valuasi tinggi memang dapat membuka banyak pintu, tetapi bisnis yang bertahan tetap membutuhkan produk yang dibutuhkan pasar, keuangan yang sehat, dan tata kelola yang kuat.
Sumber Referensi
- Reuters — Why WeWork failed, and what is next
https://www.investing.com/news/stock-market-news/explainerwhy-wework-failed-and-what-is-next-3226667 - Reuters — Jawbone’s demise a case of ‘death by overfunding’ in Silicon Valley
https://finance.yahoo.com/news/jawbones-demise-case-death-overfunding-050715872.html - U.S. Securities and Exchange Commission — SEC Charges Theranos, Holmes and Balwani with Massive Fraud
https://www.sec.gov/newsroom/press-releases/2018-41
