Memarahi Anak – Hal yang wajar dalam mendidik, tetapi jika dilakukan terlalu sering, dapat menimbulkan dampak negatif pada perkembangan psikologis dan perilaku mereka. Orang tua perlu menyadari konsekuensi dari kebiasaan memarahi anak yang berlebihan agar proses mendidik tetap efektif dan penuh kasih sayang.
Selain menurunkan rasa percaya diri, terlalu sering memarahi anak dapat memengaruhi kemampuan bersosialisasi dan kesehatan mental mereka. Penting bagi orang tua untuk mengetahui dampak dan cara memarahi anak yang benar agar mendidik tetap positif.
5 Dampak Sering Memarahi Anak
1. Menjadi Penakut dan Tidak Percaya Diri
Anak yang sering dimarahi cenderung menjadi pribadi yang penakut. Mereka akan diam karena merasa takut, bukan karena memahami kesalahan. Hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri karena anak merasa apa yang dilakukannya selalu salah.
2. Mengganggu Perkembangan Otak Anak
Marah yang terus-menerus bisa memengaruhi perkembangan otak, terutama bagian yang memproses suara dan bahasa. Bagian otak ini menjadi “tumpul” karena lebih sering memproses informasi negatif dibanding positif, sehingga kemampuan kognitif anak bisa terhambat.
3. Mengalami Depresi dan Gangguan Mental
Anak yang sering dimarahi melakukan perintah karena takut, bukan penghargaan. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak berharga, sedih, kecewa, dan lama-kelamaan memicu depresi. Anak juga bisa mencari pelampiasan untuk menyalurkan emosi negatifnya, misalnya menggunakan obat-obatan terlarang.
4. Menjadi Sosok Pemarah di Kemudian Hari
Anak yang terbiasa dengan kemarahan orang tua cenderung meniru perilaku agresif. Mereka berpikir bahwa marah atau memaki adalah respons normal ketika menghadapi masalah, dan bisa menjadi agresif atau suka berkelahi di kemudian hari.
5. Sulit Bergaul atau Bersosialisasi
Anak yang sering dimarahi akan menghindari hubungan sosial karena takut dicela atau dihina. Hal ini membuat mereka sulit menjalin pertemanan atau persahabatan yang langgeng, padahal kemampuan bersosialisasi penting untuk meningkatkan kebahagiaan dan rasa percaya diri (Alodokter, 2025).
Cara Memarahi Anak yang Benar
1. Tenangkan Diri Terlebih Dahulu
Sebelum memarahi anak, ambil napas dalam-dalam atau menjauh sejenak dari situasi untuk menenangkan diri agar reaksi tetap terkendali. Hal ini penting karena jika orang tua marah dalam kondisi emosional tinggi, kata-kata atau tindakan yang keluar bisa menyakiti anak dan menimbulkan trauma.
2. Gunakan Nada Tegas Tapi Lembut
Hindari membentak, berteriak, atau menyebut nama anak dengan julukan negatif. Gunakan nada tegas tetapi lembut untuk menunjukkan perilaku yang salah dan tidak disukai. Nada yang tepat membuat anak lebih mudah menerima pesan tanpa merasa terintimidasi atau takut.
3. Fokus pada Perilaku, Bukan Anak
Tekankan pada tindakan yang salah, bukan pada anak sebagai pribadi. Misalnya, katakan “Mainan harus dirapikan” daripada “Kamu selalu berantakan.” Dengan cara ini, anak memahami bahwa yang salah adalah perbuatan, bukan dirinya, sehingga harga diri anak tetap terjaga.
4. Jelaskan Konsekuensi
Beri tahu anak konsekuensi dari perilaku mereka, misalnya jika mainan tidak dirapikan, mainan bisa hilang atau rusak. Penjelasan ini membantu anak memahami hubungan sebab-akibat dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
5. Beri Contoh yang Baik
Anak meniru perilaku orang tua. Jika orang tua bisa mengendalikan emosi, tetap tenang saat menghadapi masalah, dan menyelesaikan konflik dengan cara baik, anak akan belajar meniru cara tersebut. Contoh nyata lebih efektif daripada hanya memberi perintah atau larangan.
6. Hindari Hukuman Fisik
Hukuman fisik tidak efektif untuk mengubah perilaku anak dan justru dapat menimbulkan trauma atau rasa takut yang berlebihan. Sebagai gantinya, gunakan pendekatan positif, misalnya memberi peringatan, menjelaskan aturan, dan menegakkan konsekuensi secara konsisten tanpa kekerasan.
7. Gunakan Penguatan Positif
Berikan pujian atau reward saat anak melakukan hal yang benar. Penguatan positif ini membantu anak belajar perilaku baik lebih cepat dan menanamkan motivasi internal untuk terus berbuat benar. Contoh sederhana bisa berupa memuji atau memberikan bintang atau sticker saat anak merapikan mainannya sendiri (Hello Sehat, 2025).
Penutup
Orang tua perlu memahami dampak memarahi anak serta cara yang tepat agar proses mendidik tetap efektif tanpa menimbulkan trauma. Dengan pendekatan yang sabar, tegas, dan komunikatif, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara emosional, dan mampu bersosialisasi dengan baik.
Temukan berbagai berita dan tips parenting seru di Garap Media untuk menambah inspirasi sehari-hari. Ikuti juga cara praktis mendidik anak agar mereka tumbuh cerdas, sehat, dan bahagia.
Referensi:
- Alodokter. (2025). Jangan sering dimarahi, ini dampak yang akan terjadi pada anak. Retrieved from https://www.alodokter.com/jangan-sering-dimarahi-ini-dampak-yang-akan-terjadi-pada-anak
- Hello Sehat. (2025). 9 Cara Memarahi Anak yang Benar Tanpa Harus Membentak. Retrieved from https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/cara-memarahi-anak-yang-benar/
