Garap Media – Banyak Gen Z sadar pentingnya menabung, tapi faktanya tabungan mereka sering tidak bertahan lama atau bahkan tidak ada sama sekali. Data dari CNBC menunjukkan hampir 49% Gen Z merasa menabung itu tidak terlalu penting, terutama karena masa depan terasa tidak pasti.
Di sisi lain, laporan Bank of America mengungkap lebih dari setengah Gen Z bahkan belum punya dana darurat dasar. Artinya, masalahnya bukan sekadar “tidak mau menabung”, tapi ada pola kebiasaan dan tekanan hidup yang membuat uang selalu habis tanpa sisa.
1. Mindset YOLO Lebih Dominan dari Planning
Salah satu penyebab utama adalah pola pikir YOLO (You Only Live Once). Banyak Gen Z lebih memilih menikmati uang sekarang dibanding menyimpannya untuk masa depan yang belum pasti. Akibatnya, menabung selalu jadi prioritas terakhir, bahkan sering tidak dilakukan sama sekali.
2. Biaya Hidup Menggerus Penghasilan
Realita ekonomi membuat banyak Gen Z kesulitan menyisihkan uang. Biaya makan, transportasi, dan kebutuhan harian terus naik, sementara penghasilan tidak selalu ikut meningkat.
Akhirnya, uang habis untuk bertahan hidup, bukan untuk membangun masa depan.
3. Literasi Finansial Masih Lemah
Meski dekat dengan teknologi, banyak Gen Z belum benar-benar paham cara mengelola uang. Laporan dari HSBC menunjukkan kurangnya edukasi finansial menjadi hambatan utama dalam kebiasaan menabung. Tanpa pemahaman yang tepat, menabung terasa sulit dan tidak terarah.
4. Tekanan Sosial & Gaya Hidup Digital
Media sosial menciptakan standar hidup yang sering tidak realistis. Melihat orang lain liburan, beli gadget, atau lifestyle mahal memicu FOMO dan konsumsi impulsif. Alih-alih menabung, banyak yang justru menghabiskan uang demi “tidak ketinggalan tren”.
5. Tidak Punya Sistem dan Rencana Keuangan
Menabung bukan soal niat, tapi sistem. Tanpa anggaran, target, atau auto-save, uang akan selalu habis tanpa kontrol.
Banyak Gen Z tidak punya financial plan sederhana, sehingga setiap gaji masuk langsung terpakai tanpa sisa.
Dampak Nyata Gagal Nabung
Gagal menabung bukan sekadar saldo kecil, dampaknya nyata:
- Tidak punya dana darurat
- Mudah stres soal uang
- Rentan berutang
- Target besar (rumah, bisnis) makin jauh
Ini membuat banyak orang terjebak dalam siklus finansial yang sama tanpa kemajuan signifikan.
Cara Keluar dari Pola Ini
Agar tidak terus gagal nabung, mulai dari langkah sederhana:
- Sisihkan 5–10% penghasilan secara otomatis
- Gunakan sistem auto-debit/tabungan terpisah
- Tentukan tujuan jelas (bukan sekadar “menabung”)
- Batasi konsumsi impulsif dari sosial media
- Upgrade literasi finansial secara konsisten
Penutup
Jadi, kenapa banyak orang gagal nabung ala Gen Z bukan karena malas, tapi karena kombinasi mindset, tekanan hidup, dan kurangnya sistem keuangan. Kabar baiknya, semua ini bisa diperbaiki.
Menabung tidak harus besar, yang penting konsisten dan terarah. Dari langkah kecil hari ini, kamu bisa membangun fondasi finansial yang jauh lebih kuat di masa depan.
Sumber Referensi:
- Gen Z asks: ‘What’s the point of saving money’ — https://www.cnbc.com/2025/06/07/gen-z-asks-whats-the-point-of-saving-money.html (CNBC)
- Gen Z financial study – Bank of America — https://newsroom.bankofamerica.com/content/newsroom/press-releases/2025/07/confronted-with-higher-living-costs–72–of-young-adults-take-ac.html (Bank of America)
- Nearly half of Gen Z are saving – but lack education — https://www.about.hsbc.co.uk/news-and-media/nearly-half-of-gen-z-are-saving (HSBC)
- Apa yang membuat kita sulit menabung? Ini 5 penyebabnya — https://money.kompas.com/read/2025/05/26/163504226/apa-yang-membuat-kita-sulit-menabung-ini-5-penyebabnya?page=all (Kompas Money)
