Garap Media – Perang kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China ternyata tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki chip paling canggih. Ada aset lain yang semakin menentukan, yaitu data. Bagi industri AI, data merupakan bahan penting untuk melatih, menguji, dan mengembangkan sistem kecerdasan buatan. China bahkan mulai memperlakukan data sebagai aset strategis yang dapat memperkuat daya saing nasional. Laporan komisi penasihat Kongres Amerika Serikat pada Agustus 2026 menilai pendekatan tersebut berpotensi memberi China keunggulan dalam persaingan AI.
1. China Memiliki Ekosistem Data yang Sangat Luas
Alasan pertama adalah skala data yang dapat dikumpulkan dari berbagai aktivitas ekonomi dan sosial. Data tersebut tidak hanya berasal dari internet, tetapi juga dari perusahaan, manufaktur, transportasi, layanan digital, hingga aktivitas fisik. Kondisi ini penting karena AI generasi baru semakin banyak digunakan untuk memahami dunia nyata. Data operasional dapat membantu sistem AI belajar mengenali pola yang sulit diperoleh hanya dari informasi di internet. Komisi penasihat Amerika menilai China memiliki keunggulan karena pengumpulan dan pemanfaatan data dilakukan dalam ekosistem yang relatif terkoordinasi.
Keunggulan tersebut menjadi semakin menarik ketika AI masuk ke sektor industri. Data dari pabrik misalnya dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memprediksi kebutuhan perawatan mesin. Data kendaraan juga dapat membantu pengembangan teknologi kendaraan otonom. Dalam bidang robotika, semakin banyak data lingkungan yang tersedia, semakin banyak pula pengalaman yang dapat dipelajari sistem AI. Pola serupa dapat terjadi pada sektor kesehatan, keuangan, dan layanan publik. Artinya, data dapat menjadi fondasi untuk mempercepat penerapan AI di berbagai sektor.
2. China Berusaha Mengubah Data Menjadi Aset Ekonomi
Alasan kedua adalah China tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga berusaha membangun mekanisme agar data dapat dimanfaatkan secara ekonomi. Pemerintah China membentuk National Data Administration pada 2023 untuk mengoordinasikan kebijakan data dan mendorong pembangunan pasar data nasional. Sejumlah perusahaan juga mulai menawarkan dataset melalui bursa data regional. Langkah tersebut menunjukkan bahwa data dipandang bukan sekadar hasil aktivitas digital, tetapi sebagai sumber daya yang dapat digunakan kembali.
Jika data semakin mudah dipertukarkan secara legal dan terstruktur, perusahaan AI memiliki lebih banyak bahan untuk mengembangkan produk. Startup tidak harus selalu membangun seluruh kumpulan data dari awal. Perusahaan manufaktur juga dapat memanfaatkan data operasional untuk meningkatkan sistem otomatisasi. Model bisnis baru kemudian bisa muncul dari hubungan antara pemilik data, pengembang AI, dan pengguna teknologi. Inilah yang membuat data memiliki nilai strategis di luar sekadar jumlahnya.
3. Data Bisa Mempercepat AI yang Masuk ke Dunia Nyata
Alasan ketiga berkaitan dengan cara China mengembangkan AI. Brookings menilai persaingan AI China tidak hanya berfokus pada model paling canggih, tetapi juga pada efisiensi, adopsi, integrasi, dan penerapan teknologi dalam ekonomi nyata. Data dari dunia nyata menjadi penting dalam strategi tersebut. AI yang digunakan di pabrik, kendaraan, robot, atau layanan digital terus menghasilkan pengalaman baru. Pengalaman tersebut kemudian dapat membantu pengembangan sistem berikutnya.
Di sinilah data dapat menciptakan efek berantai yang sulit diabaikan. Semakin banyak AI digunakan, semakin banyak data operasional yang tersedia untuk evaluasi. Data tersebut dapat membantu perusahaan menemukan kelemahan sistem dan memperbaiki teknologi. Perbaikan teknologi kemudian mendorong lebih banyak penggunaan AI. Siklus tersebut berpotensi mempercepat perkembangan ekosistem AI secara keseluruhan. Karena itu, data dapat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan siapa yang mampu bergerak lebih cepat dalam perang AI.
Penutup
Perang AI China dan Amerika Serikat pada akhirnya bukan hanya pertarungan model, chip, atau pusat data. Data menjadi lapisan penting yang dapat menentukan seberapa cepat teknologi AI berkembang dan masuk ke berbagai industri. China mencoba memanfaatkan skala data, kebijakan nasional, serta integrasi teknologi untuk memperkuat ekosistem tersebut. Namun data saja tidak otomatis membuat sebuah negara unggul karena komputasi, talenta, chip, model, dan tata kelola tetap menentukan hasil akhir. Persaingan AI global karena itu akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengubah data menjadi pengetahuan dan produk yang berguna. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa data nasional juga memiliki nilai strategis yang semakin besar.
Sumber Referensi
- US advisory body says China’s data dominance gives it AI advantage – Reuters
https://www.reuters.com/world/china/us-advisory-body-says-chinas-data-dominance-gives-it-ai-advantage-2026-08-18/ - China is running multiple AI races – Brookings Institution
https://www.brookings.edu/articles/china-is-running-multiple-ai-races/ - Competing AI strategies for the US and China – Brookings Institution
https://www.brookings.edu/articles/competing-ai-strategies-for-the-us-and-china/
