Garap Media – Persaingan kecerdasan buatan antara China dan Amerika Serikat semakin sulit disebut sekadar perlombaan teknologi. AI kini berkaitan dengan industri, ekonomi, semikonduktor, energi, hingga kekuatan geopolitik. Brookings menilai Amerika masih unggul dalam ekosistem software dan model AI agentic, sementara China memiliki kekuatan besar dalam penerapan AI ke dunia fisik dan industri.
China karena itu tidak hanya berusaha menciptakan chatbot yang mampu menyaingi produk Amerika. Beijing juga mendorong kemandirian semikonduktor, memperluas penggunaan AI, dan mengembangkan model yang semakin efisien. Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat satu persoalan besar: China belum sepenuhnya menguasai seluruh rantai pasok teknologi AI canggih.
1. China Mendapat Dorongan Besar dari Negara
Alasan pertama China mampu bergerak cepat adalah kuatnya dukungan kebijakan pemerintah. AI ditempatkan sebagai bagian dari strategi teknologi dan industri nasional sehingga pengembangan model, pusat data, semikonduktor, dan aplikasi AI mendapat dorongan yang saling terhubung. Brookings mencatat inovasi AI China sangat dipengaruhi perencanaan kebijakan negara, berbeda dengan Amerika yang lebih banyak digerakkan investasi sektor swasta. (Brookings) Strategi tersebut membuat perusahaan China memiliki insentif kuat untuk mengembangkan teknologi domestik. Tujuannya bukan sekadar mengejar kemampuan Amerika, tetapi mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Tekanan dari Amerika justru memperkuat dorongan tersebut. Center for Strategic and International Studies mencatat pembatasan ekspor teknologi semikonduktor canggih sejak 2022 memang mengganggu akses China terhadap sejumlah teknologi, tetapi pada saat yang sama mempercepat upaya Beijing membangun kemampuan chip domestik. (CSIS) China kemudian semakin serius mengembangkan desain chip, peralatan produksi, dan alternatif lokal. Perubahan ini membuat perang AI sekaligus menjadi perlombaan kemandirian teknologi. Semakin besar hambatan dari luar, semakin besar pula tekanan bagi China untuk membangun ekosistemnya sendiri.
2. Model AI China Semakin Kompetitif
Alasan kedua adalah perkembangan model AI China yang semakin cepat. DeepSeek menjadi salah satu contoh paling terkenal setelah menunjukkan bahwa perusahaan China dapat menghasilkan model dengan kemampuan kompetitif dan pendekatan yang menekankan efisiensi. Perkembangan berikutnya juga datang dari perusahaan seperti Moonshot AI, Alibaba, Zhipu AI, dan sejumlah pemain lainnya. Reuters melaporkan Zhipu AI mencatat pertumbuhan pendapatan yang sangat cepat pada paruh pertama 2026, meskipun perusahaan tersebut masih membukukan kerugian besar karena terus meningkatkan investasi riset dan pengembangan. (Reuters) Ini menunjukkan persaingan AI China tidak hanya bertumpu pada satu perusahaan.
Perkembangan model juga memperlihatkan bahwa China mulai mencari cara mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Zhipu, misalnya, meluncurkan model yang dikembangkan menggunakan chip buatan China sebagai respons terhadap pembatasan teknologi Amerika. (Reuters) DeepSeek pun terus meningkatkan kemampuan modelnya, termasuk pada pekerjaan coding, penalaran ilmiah, dan tugas berbasis agen AI. Dengan semakin banyak perusahaan yang berkompetisi, China memiliki ekosistem AI yang semakin beragam. Tantangannya sekarang adalah mengubah kemajuan teknologi tersebut menjadi bisnis yang menguntungkan dalam skala global.
3. China Memiliki Kekuatan Data dan Industri
Alasan ketiga berada pada sesuatu yang sering tidak terlihat ketika orang membicarakan AI, yaitu data dunia nyata. China memiliki basis industri manufaktur yang sangat besar dan semakin banyak aktivitas ekonomi yang terdigitalisasi. Data tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan AI di bidang robotika, kendaraan otonom, manufaktur, dan berbagai aplikasi fisik lainnya. Komisi penasihat ekonomi dan keamanan AS-China bahkan menyebut pendekatan China terhadap data sebagai aset strategis yang berpotensi memberikan keunggulan dalam pengembangan AI. (Reuters) Ini menjadi salah satu alasan China tidak harus memenangkan setiap kategori model AI untuk tetap memiliki kekuatan besar.
Kekuatan tersebut semakin terlihat ketika AI bertemu dengan industri. China memiliki kemampuan manufaktur dalam skala besar, sehingga teknologi AI dapat lebih cepat diuji dan diterapkan pada robot, kendaraan, pabrik, serta berbagai perangkat pintar. Brookings juga menilai China memiliki keunggulan dalam inovasi physical AI, sedangkan Amerika lebih kuat dalam software dan ekosistem komersial model AI yang semakin canggih. (Brookings) Perbedaan kekuatan ini membuat persaingan keduanya tidak benar-benar berlangsung di arena yang sama. China dapat memanfaatkan kekuatan industri untuk mempercepat penerapan AI di dunia nyata.
Masalah Besarnya: Chip dan Infrastruktur Komputasi
Meski kemajuan China semakin terlihat, persoalan chip masih menjadi hambatan besar. Model AI canggih membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar dan bergantung pada rangkaian teknologi mulai dari chip, peralatan manufaktur, hingga software pendukung. Pembatasan ekspor Amerika membuat akses China terhadap sejumlah chip dan teknologi produksi terdepan menjadi lebih sulit. Studi tentang persaingan AI AS-China mencatat kontrol ekspor telah menjadi salah satu instrumen utama dalam persaingan teknologi kedua negara. (arXiv)
China memang terus membangun alternatif domestik, tetapi proses tersebut membutuhkan waktu dan investasi sangat besar. Bahkan perkembangan terbaru menunjukkan ketergantungan tersebut belum sepenuhnya hilang: Reuters melaporkan perusahaan AI China Moonshot sedang menjajaki kerja sama dengan Microsoft, Amazon, dan Google untuk menyediakan infrastruktur cloud bagi model Kimi K3. (Reuters) Sementara itu, Huawei meningkatkan investasi riset dan pengembangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, meskipun biaya tersebut turut menekan keuntungan perusahaan. (Reuters) Inilah paradoks utama China: kemampuan membuat AI berkembang pesat, tetapi membangun seluruh mesin di belakang AI jauh lebih sulit.
Penutup
China memang semakin serius mengejar AI Amerika. Dukungan negara, perkembangan model AI, kekuatan data, dan basis industri yang besar membuat posisi China jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu.
Namun, perlombaan AI tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki chatbot paling pintar. Penguasaan chip, cloud, software, energi, data, dan rantai pasok semikonduktor juga menentukan siapa yang mampu mempertahankan keunggulan dalam jangka panjang.
Masalah terbesar China saat ini adalah membangun ekosistem AI yang benar-benar mandiri. Jika Beijing berhasil mengatasi ketergantungan pada teknologi semikonduktor dan komputasi asing, persaingan AI global bisa memasuki babak yang jauh lebih sengit.
Sumber Referensi
- Brookings – Are the US and China Really in an AI “Race”?
https://www.brookings.edu/articles/are-the-us-and-china-really-in-an-ai-race/ (Brookings) - CSIS – China’s Localization Drive in Semiconductors Gains Impetus from Allied Chip Export Controls
https://www.csis.org/analysis/chinas-localization-drive-semiconductors-gains-impetus-allied-chip-export-controls (CSIS) - Reuters – US Advisory Body Says China’s Data Dominance Gives It AI Advantage
https://www.reuters.com/world/china/us-advisory-body-says-chinas-data-dominance-gives-it-ai-advantage-2026-08-18/ (Reuters)
